Pendapatan Hermina (HEAL) Diproyeksikan Naik 5%, Sahamnya Direkomendasikan Beli
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik proyeksi pertumbuhan pendapatan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) untuk tahun fiskal 2025 menjadi 5% secara tahunan (year on year/yoy) dari sebelumnya 3%.
Dengan demikian, pendapatan Hermina diperkirakan mencapai Rp 7 triliun sepanjang tahun lalu. Berdasarkan analisis kinerja ini, BRIDS mempertahankan rekomendasi beli untuk saham HEAL dengan target harga Rp 1.950.
Proyeksi kinerja topline Hermina mencerminkan pendapatan kuartal IV-2025 sekitar Rp 1,8 triliun atau tumbuh 5% (yoy), seiring berlanjutnya pemulihan volume hari kerja meski tetap mempertimbangkan dampak libur akhir tahun.
Proyeksi BRIDS untuk kinerja Hermina satu tahun penuh tersebut turut memperhitungkan hasil kuartal III-2025. Kinerja perusahaan pada Juli-September 2025 membuka ruang optimisme terhadap prospek pendapatan dan margin Hermina ke depan.
Baca Juga
HEAL membukukan laba bersih sebesar Rp 131 miliar pada kuartal III-2025, tumbuh 5% (yoy) dan melampaui estimasi BRIDS sebesar Rp 119 miliar. Dengan capaian ini, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk selama sembilan bulan 2025 mencapai Rp 356 miliar, tumbuh 24% (yoy).
Realisasi tersebut setara 83% dari proyeksi analis dan 69% dari konsensus pasar untuk tahun fiskal 2025. Kinerja positif emiten yang dinakhodai Yulisar Khiat ini ditopang pertumbuhan pendapatan kuartal III-2025 yang mencapai 13% (yoy). Pertumbuhan terutama didorong oleh meningkatnya jumlah hari kerja menjadi 64 hari, dibandingkan 58 hari pada kuartal I dan 51 hari pada kuartal II-2025.
“Kondisi ini mendorong penerimaan pasien rawat inap yang naik 12% secara kuartalan (quarter on quarter/qoq), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5% (qoq) pada kuartal sebelumnya,” jelas Analis BRIDS, Ismail Fakhri dan Wilastita Muthia dalam riset yang dikutip pada Minggu (25/1/2006).
Selain itu, musim medical check-up (MCU) korporasi turut meningkatkan kunjungan pasien rawat jalan sebesar 15% (qoq), berbalik dari stagnasi pada kuartal II-2025. Meski demikian, intensitas pasien rawat inap dan rawat jalan dinilai masih relatif lemah, masing-masing sebesar 0% dan minus 4% (qoq).
Baca Juga
Ekspansi Hermina (HEAL), Target Tambah Tiga Rumah Sakit pada 2026
Dari sisi profitabilitas, margin laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) Hermina meningkat signifikan sebesar 180 basis poin (bps) secara kuartalan (qoq), melampaui estimasi analis sebesar 110 bps.
Kenaikan margin tersebut didorong oleh penurunan biaya gaji sebagai persentase pendapatan, baik pada pos harga pokok penjualan maupun biaya operasional, seiring dimulainya implementasi sistem enterprise resource planning (ERP).
Dalam setahun penuh, margin EBITDA Hermina diprediksi masih terbebani oleh biaya operasional empat rumah sakit (RS) baru yang dibangun pada 2024. Implementasi penuh ERP pun diproyeksikan menjadi katalis utama ekspansi margin EBITDA tahun ini.
BRIDS menurunkan asumsi biaya gaji terhadap pendapatan Hermina pada 2026 dan 2027, masing-masing sebesar 130 bps dan 140 bps. Penyesuaian ini mendorong proyeksi laba bersih naik 9% menjadi Rp 555 miliar pada 2026 dan naik 18% menjadi Rp 645 miliar pada 2027, dengan estimasi pendapatan tetap di Rp 7,8 triliun dan Rp 8,7 triliun.
Baca Juga
Gelontorkan Rp 1,04 Triliun, Grup Djarum Akuisisi 3,64% Saham Hermina (HEAL) Harga Premium
Berdasarkan prospek tersebut, BRIDS mempertahankan rekomendasi beli untuk saham HEAL dengan target harga berbasis discounted cash flow (DCF) sebesar Rp 1.950, naik dari posisi penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026) di level Rp 1.410.
“Potensi melesetnya target pertumbuhan pendapatan 2025 dari panduan manajemen sebagian besar telah diantisipasi pasar. Sementara penundaan realisasi peningkatan intensitas pendapatan melalui implementasi KRIS (kelas rawat inap standar) dan Coordination of Benefit (CoB) juga telah diperhitungkan,” papar Analis BRIDS, Ismail Fakhri.
Ke depan, kisah ekspansi margin jangka panjang HEAL dinilai tetap solid, didukung skala ekonomi dari pertumbuhan volume, peningkatan intensitas pendapatan melalui KRIS-CoB, kontribusi bisnis non-RS, serta pertumbuhan volume rawat jalan melalui sinergi Djarum–Astra.
“Adapun risiko utama yang perlu dicermati, meliputi potensi pembengkakan belanja modal dan biaya operasional dari rencana pembangunan sekitar 16 RS baru pada periode 2026–2030, tantangan penetrasi pasien swasta, serta ketatnya klaim BPJS yang berkelanjutan,” tambah Analis BRIDS, Wilastita Muthia.

