Gelontorkan Rp 1,04 Triliun, Grup Djarum Akuisisi 3,64% Saham Hermina (HEAL) Harga Premium
JAKARTA, investortrust.id – PT Dwimuria Investama Andalan, perusahaan yang dikendalikan Budi Hartono bersaudara, menggelontorkan dana Rp 1,04 triliun untuk membeli sebanyak 559,18 juta atau 3,64% saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL). Harga pembelian lebih mahal atau premium 36,36% dari harga penutupan saham HEAL di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (25/6/2025).
Wadirut Hermina (HEAL) Yulisa Khiat mengatakan, Dwimuria yang juga pengendali PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ini membeli seluruh saham treasury HEAL dari hasil pembelian kembali (buyback) dengan harga pembelian Rp 1.875 per saham, sehingga total dana yang digelontorkan perusaaan grup Djaru mini mencapai Rp 1,04 triliun. “Transaksi saham tersebut telah dilakukan pada 25 Juni 2025 melalui pasar di luar Bursa Efek Indonesia,” tulisnya dalam pengumuman resmi di BEI, hari ini.
Baca Juga
Target Harga Saham Hermina (HEAL) Dipangkas Saat Laba Naik, Ada Apa?
Berdasarkan data perdagangan BEI, saham HEAL hari ini ditutup turun tipis 0,36% menjadi Rp 1.375, sehingga harga akuisisi jauh di atas harga pasar. Sebelumnya grup besar PT Astra International Tbk (ASII) telah terlebih dahulu masuk Hermina dengan memborong sebanyak 7,23% tahun 2022.
Berdasarkan data registrasi pemegang saham, Hermia (HEAL) dikendalikan beberapa pihak dengan kepemilikan terbesar dicatatkan Yilisar Khiat sebanyak 12,78% saham HEAL. Pengendali lainnya Binsar Parasian menguasai 5,34% saham HEAL, Hasmoro menggenggam 4,78% saham HEAL, PT Astra International Tbk (ASII) menguasai 7,23% saham HEAL, Lydia Immanuel menguasai 5,56% saham HEAL, dan Meijani Wibowo menguasai 2,15% saham HEAL.
Baca Juga
Gandeng Hermina Group, Bank Mandiri Akselerasi Pembiayaan Hunian Bersubsidi untuk Tenaga Kesehatan
Terkait kinerja keuangan, HEAL membukukan penurunan pendapatan bersih dari Rp 1,70 triliun menjadi Rp 1,69 triliun pada kuartal I-2025. Laba usaha juga turun dari Rp 333,26 miliar menjadi Rp 264,20 miliar.
Laba bersih tahun berjalan juga tergerus dari Rp 243,90 miliar menjadi Rp 160,59 miliar. Penurunan tersebut memicu laba per saham dasar turun dari Rp 12,96 menjadi Rp 8,38 per saham.

