Ekspansi Hermina (HEAL), Target Tambah Tiga Rumah Sakit pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) berencana menambah tiga rumah sakit (RS) pada 2026. Dua RS akan dibangun baru atau greenfield, sementara satu lainnya kemungkinan melalui akuisisi.
“Kami mempunyai program Quantum Lead Jilid II. Rencana 2026, kami menargetkan sekitar tiga RS, dua greenfield dan satu bisa akuisisi, tergantung visibilitas yang paling baik untuk Hermina,” ujar Wakil Direktur Utama Medikaloka Hermina, Yulisar Khiat, dalam Pubex Live 2025, Rabu (10/9/2025).
Manajemen belum merinci anggaran belanja modal (capex) untuk ekspansi 2026. Namun, mengacu pada capex tahun ini, satu RS baru rata-rata membutuhkan investasi sekitar Rp 200 miliar.
Baca Juga
Meski Kinerja Turun, Sinergi Djarum-Astra Membuat Prospek Saham Hermina (HEAL) Tetap Menarik
Pada 2025, Hermina tengah membangun dua pusat layanan kesehatan baru di Badung-Bali dan Salatiga-Jawa Tengah. “Pembangunan di Badung-Bali maupun Salatiga-Jateng berjalan on track. Nilainya di Bali Rp200 miliar lebih, sementara di Salatiga hampir Rp 200 miliar, mencakup tanah, pembangunan, dan pengisian fasilitas,” jelas Yulisar.
RS Hermina Badung dijadwalkan soft opening pada November 2025, dan beroperasi penuh pada Desember 2025 atau Januari 2026. Tenggat waktu sama juga ditargetkan untuk RS Hermina Salatiga. “Untuk Salatiga, ada percepatan pembangunan sehingga keduanya bisa beroperasi di tahun ini,” imbuhnya.
Serapan belanja modal Hermina sepanjang semester I-2025 mencapai Rp816 miliar. Dana tersebut digunakan untuk penambahan tempat tidur, pembangunan infrastruktur RS lama dan baru, serta pembelian peralatan medis.
Baca Juga
Berpeluang Masuk MSCI, Intip Prospek Saham Mayapada Hospital (SRAJ) Berikut
Namun, manajemen mengakui ekspansi menekan kinerja keuangan. Hampir seluruh komponen biaya (COGS) naik, menyebabkan laba kotor turun 32% pada kuartal II-2025.
Ekspansi membuat biaya tenaga kerja frontliner seperti dokter, perawat, hingga administrasi meningkat, disertai beban operasional lain. “Selain itu, lemahnya volume procurement obat dan alat kesehatan ikut menekan COGS. Biaya procurement naik 10% (yoy), sedangkan revenue tumbuh hanya 1%,” kata Yulisar.
Baca Juga
Gelontorkan Rp 1,04 Triliun, Grup Djarum Akuisisi 3,64% Saham Hermina (HEAL) Harga Premium
Akibatnya, laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk turun 35,5% (yoy) menjadi Rp225 miliar. Kinerja hingga paruh pertama 2025 ini diakui sebagai dampak ekspansi 2024.
Oleh karena itu, manajemen menjadwalkan ekspansi RS kembali pada akhir 2025 untuk meredam beban biaya, menjaga EBITDA, serta menopang laba bersih agar 2026 bisa tumbuh lebih baik. “Ke depan hingga 2030, kami menargetkan 65–70 RS dengan 12–15 ribu tempat tidur. Hermina juga mengembangkan intensitas pelayanan, riset teknologi, serta memenuhi requirement hospital based,” pungkas Yulisar.

