IHSG Berpeluang Tembus 9.000 Hari Ini, Analis: Momentum Kuat Meski Volatilitas Tetap Ada
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, (7/1/2026), berpeluang menembus level 9.000, meskipun tetap disertai dengan potensi volatilitas jangka pendek.
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow dan Republik Investor Hendra Wardana menjelaskan secara teknikal, tren IHSG masih sangat kuat dengan momentum kenaikan yang belum menunjukkan tanda-tanda pelemahan berarti. Secara fundamental, ketahanan rupiah di pasar spot, likuiditas pasar yang tinggi, serta rotasi dana asing ke saham-saham berkapitalisasi besar menjadi faktor utama pendorong.
Baca Juga
Persaingan FBB Memanas, Penetrasi Tembus 41%: Bagaimana Prospek Saham TLKM, ISAT, EXCL?
“Namun demikian, karena level 9.000 merupakan resistance psikologis yang penting, potensi aksi ambil untung jangka pendek tetap perlu diantisipasi, terutama jika terjadi tekanan dari pasar global atau pelemahan lanjutan harga komoditas energi,” kata Hendra kepada investortrust.id Rabu, (7/1/2026).
Apabila level 9.000 berhasil ditembus dan dikonfirmasi secara teknikal, Hendra mengatakan, target penguatan IHSG selanjutnya berpotensi mengarah ke kisaran 9.150 hingga 9.300 dalam jangka pendek hingga menengah.
“Target ini didasarkan pada proyeksi ekstensi tren naik serta asumsi bahwa arus dana asing masih berlanjut, didukung oleh ekspektasi stabilitas kebijakan moneter domestik dan pertumbuhan kinerja emiten-emiten besar. Selama tidak ada guncangan global yang bersifat sistemik, koreksi yang terjadi diperkirakan bersifat sehat dan terbatas, lebih sebagai konsolidasi sebelum kenaikan lanjutan,” terang dia.
Baca Juga
Dari sisi sektoral, Hendra menyoroti penguatan IHSG pada perdagangan berikutnya masih akan ditopang oleh sektor perbankan besar, sektor konsumer, serta saham-saham berbasis investasi dan media.
Lebih lanjut, Hendra mengungkapkan penguatan IHSG yang kembali mencetak rekor tertinggi di level 8.933 pada perdagangan Selasa (6/1/2026) menunjukkan pasar domestik sedang berada dalam fase risk-on yang sangat kuat.
“Menariknya, reli ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela,” tambah Hendra.
Baca Juga
Analis: IHSG Bersiap Tembus 10.000, Saham Konglomerasi Jadi Penopang
Ia juga menegaskan fakta bahwa IHSG mampu mencetak rekor dua kali dalam waktu kurang dari satu minggu bahwa sentimen internal, khususnya aliran dana asing dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi domestik, saat ini jauh lebih dominan dibandingkan sentimen eksternal. Di mana net buy asing yang mencapai sekitar Rp 911 miliar menjadi bukti investor global masih melihat Indonesia sebagai tujuan investasi yang atraktif di kawasan.
Menurut Hendra adapun saham-saham yang menarik dicermati dan berpotensi dikoleksi, SRTG dengan target harga Rp 1.785, saham AMRT dengan target jangka pendek di kisaran Rp 2.100, kemudia SCMA dengan target di sekitar Rp 400. Sementara SMGA menarik untuk strategi trading jangka pendek dengan target Rp 150.

