Bagikan

Analis: IHSG Bersiap Tembus 10.000, Saham Konglomerasi Jadi Penopang

Poin Penting

IHSG berpeluang menembus level 10.000, ditopang saham-saham grup konglomerasi.
Proyeksi bullish hingga 10.013, dengan risiko koreksi jika sentimen global memburuk.
Sektor perbankan, infrastruktur, dan komoditas dinilai menopang pasar awal 2026.

JAKARTA, investortrust.id – Sejumlah analis pasar modal menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang menguat hingga menembus level psikologis 10.000, bahkan berpotensi melampauinya dalam waktu dekat. Penguatan akan ditopang saham-saham grup konglomerasi.

Adapun IHSG hari ini ditutup melonjak sebanyak 111,06 poin (1,27%) ke level tertinggi baru 8.859. Penguatan ditopang kenaikan hampir seluruh sektor saham saham, seperti sektor material dasar naik 2,62%, sektor energi 2,31%, sektor transportasi 2,02%, sektor konsumer primer 1,66%, sektor kesehatan 1,62%, dan sektor keuangan 1,42%.

Baca Juga

RKAB 2026 Belum Terbit, Ditjen Minerba Keluarkan Surat Edaran

Retail Research Analyst BNI Sekuritas Muhammad Lutfi Permana, menyampaikan bahwa peluang IHSG mencapai level 10.000 masih terbuka selama pergerakan indeks ditopang oleh saham-saham grup konglomerasi. Menurutnya, ketika saham perbankan besar, emiten LQ45, serta saham berkapitalisasi besar (big caps) cenderung stagnan, saham-saham konglomerasi justru menjadi penopang baru kinerja IHSG sepanjang 2025.

Dalam skenario bullish, Lutfi memproyeksikan IHSG berpeluang menembus level 10.013. Sementara dalam skenario bearish, indeks diperkirakan dapat melemah hingga 7.549, dengan area dasar (base) di kisaran 9.115.

“Sentimen yang direncanakan oleh pemerintah, kalau misalnya memang masih jalan dan ini berjalan lancar, mungkin katalisnya akan positif ke pasar. Begitu juga dengan suku bunga The Fed memutuskan untuk pangkas suku bunga sebanyak 100 bps, ini juga akan bullish ke pasar,” kata Lutfi di kanal YouTube BNI Sekuritas 46 bertajuk “Welcome 2026! IHSG Rp 10.000 Apakah Possible?”, Senin (5/1/2026).

Baca Juga

Kemenlu Cermati Serangan AS ke Venezuela

Meski demikian, Lutfi mengingatkan investor untuk tetap mencermati berbagai katalis, baik fundamental maupun teknikal, serta isu-isu yang berpotensi memengaruhi pergerakan saham, khususnya yang berdampak pada emiten-emiten konglomerasi.

Senada, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai bahwa peluang IHSG menembus level 10.000 lebih besar, apabila kebijakan pemerintah yang diterapkan kepada masyarakat berjalan selaras. Selain itu, dukungan Bank Indonesia (BI) melalui kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas dinilai menjadi faktor krusial.

“Sebetulnya proyeksi kami sejalan dengan Pak Menkeu (Purbaya Yudhi Sadewa), kami melihat IHSG di (level) 10.500,” ujar Rully, Senin (5/1/2025).

Tantangan Kompleks

Di sisi lain, analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana, berpandangan bahwa perjalanan IHSG menuju level 10.000 masih dihadapkan pada tantangan yang kompleks. Tantangan tersebut mencakup volatilitas nilai tukar rupiah, risiko perlambatan ekonomi global, serta dinamika kebijakan global.

Pandangan ini sejalan dengan Lutfi yang menilai IHSG masih rentan terhadap isu global seperti arah suku bunga The Fed, perang dagang, dan geopolitik.

“IHSG di 2026 lebih realistis dipandang berada dalam tren naik bertahap, dengan volatilitas yang tetap tinggi dan selektivitas saham yang semakin penting,” kata Hendra, Senin (5/1/2025).

Baca Juga

Ekonomi Indonesia Dinilai Relatif Aman dari Gejolak Venezuela

Meski begitu, January effect masih berlangsung dan diperkirakan menjadi katalis psikologis bagi pergerakan IHSG, meskipun dampaknya dinilai tidak sekuat periode sebelumnya dan bersifat sektoral serta selektif.

Sektor yang diperkirakan menopang pergerakan IHSG pada awal 2026 antara lain sektor keuangan, khususnya perbankan besar yang diuntungkan oleh stabilnya suku bunga domestik dan ekspektasi pertumbuhan kredit. Selain itu, sektor infrastruktur dan konstruksi berpeluang mendapat perhatian seiring dimulainya realisasi belanja pemerintah. Di tengah ketidakpastian global, komoditas emas juga masih diminati sebagai aset lindung nilai.

Lutfi menambahkan, sektor perbankan berpotensi meraih manfaat dari pelonggaran likuiditas, terutama ketika pemerintah menyalurkan dana sekitar Rp 200 triliun ke bank-bank Himbara, lalu menarik kembali sekitar Rp 76 triliun untuk kebutuhan belanja rutin kementerian dan lembaga.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024