Manulife Prediksi Volatilitas Pasar Saham akan Tetap Tinggi hingga Ada Signal Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memprediksi volatilitas pasar akan tetap tinggi dalam jangka pendek. Volatilitas akan berlangsung hingga ada signal keputusan negosiasi tarif serta dampaknya terhadap laporan keuangan emiten, pertumbuhan ekonomi, serta inflasi.
“Walau demikian pembalikan sentimen dapat terjadi sewaktu-waktu, berkaca dari periode awal tarif terhadap Kanada dan Meksiko pada Februari dan Maret 2025, di mana Presiden Donald Trump dapat dengan cepat menunda implementasi tarif, sehingga mengangkat sentimen di pasar,” ungkap Head of Investment Specialist MAMI Freddy Tedja yang dikutip pada Rabu (9/4/2025).
Setelah sempat terhindar dari guncangan pasar global pekan lalu, IHSG langsung dibuka melemah lebih dari 9% pada perdagangan hari perdana usai libur Idulfitri. Hal ini memicu penghentian perdagangan (trading halt) selama 30 menit untuk kemudian dibuka kembali dan berhasil mengurangi pelemahan.
Baca Juga
Pada sesi penutupan Selasa 8 April 2025, IHSG akhrinya tercatat melemah di level 5.996,14 atau turun 7,9%. Pasar obligasi terlihat lebih bertahan dengan imbal hasil SBN 10 tahun berada di kisaran 7,1% dibandingkan level 7% akhir Maret lalu. Sementara Rupiah berada di kisaran Rp 16.800 per Dolar AS setelah pekan lalu sempat menyentuh level Rp 17.000 di pasar luar negeri.
Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto menyatakan, Indonesia bersama-sama dengan ASEAN akan menempuh jalur negosiasi dengan AS. Menko menyebut, tidak akan mengimplementasikan tarif balasan, dan menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat menghadapi dinamika pasar global saat ini.
Dalam pengamatan Freddy, pengumuman tarif dagang oleh Presiden AS Donald Trump menimbulkan faktor-faktor ketidakpastian baru di pasar global. Antara lain, pertanyaan mengenai apakah kebijakan tarif akan bersifat permanen atau hanya sebagai metode untuk mendorong negara-negara ke meja negosiasi dengan AS.
Pelaku pasar juga mempertanyakan ketidakpastian tentang seberapa besar risiko pembalasan atau retaliasi tarif dari negara lain, yang tidak mau bernegosiasi.
Baca Juga
Luhut Sebut RI Sudah Siapkan Proposal untuk Negosiasi Tarif dengan AS
“Dan yang terpenting, bagaimana dampak kebijakan tarif terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi di tengah kompleksnya rantai pasok perdagangan dunia,” simpul Freddy.
Dia menegaskan bahwa ketiga hal tersebut masih akan menjadi tanda tanya besar dalam waktu dekat. Freddy juga mengingatkan bahwa pada dasarnya tarif seperti pajak dapat berimbas negatif pada pertumbuhan ekonomi dan mendorong inflasi jangka pendek.
Berdasarkan konsensus Bloomberg, probabilitas resesi AS setahun ke depan meningkat menjadi 30%, dibandingkan 20% di awal 2025. Hal ini mengindikasikan kekhawatiran pasar terhadap dampak negatif tarif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Namun di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan Fed Funds Rate di 2025 juga menjadi lebih agresif sebanyak 4 kali pemangkasan dari sebelumnya hanya 2 kali. Hal ini mengindikasikan harapan pelonggaran kebijakan moneter dari bank sentral untuk mendukung ekonomi.
Walau demikian, Ketua The Fed Jerome Powell mengindikasikan bahwa The Fed tidak akan terburu-buru bereaksi terhadap tarif. Fokus bank sentral di AS itu akan tertuju pada penjagaan ekspektasi inflasi jangka panjang.
Baca Juga
IHSG Dibuka Anjlok 9,19% hingga Langsung Terkena Trading Halt
Untuk Indonesia sendiri, dampak langsung tarif AS diperkirakan relatif terbatas dibanding negara lain. Walaupun Indonesia terkena tarif resiprokal cukup tinggi, ekspor Indonesia ke AS hanya 10% dari total ekspor Indonesia di 2024, atau 2,2% dari PDB. Sedangkan negara lain lebih terekspos terhadap ekspor ke AS, seperti Vietnam 33% dari PDB, Malaysia 13% dari PDB, atau Thailand 13% dari PDB.
Di sisi lain, dampak secara tidak langsung dari melambatnya pertumbuhan ekonomi global, risiko inflasi, ketidakpastian bagi dunia usaha, keyakinan konsumen, dan arah kebijakan suku bunga menjadi faktor-faktor yang dapat lebih berdampak pada ekonomi.
“Dalam kondisi seperti ini, penting bagi investor untuk memiliki portofolio yang terdiversifikasi, dan memastikan adanya aset-aset yang likuid, sehingga dapat menjaga volatilitas portofolio dan memanfaatkan potensi pembalikan sentimen di pasar yang masih sangat dinamis,” pungkasnya.

