Analis Sebut Volatilitas IHSG Masih Tinggi, Pasca ’Pukulan’ MSCI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat adanya tren penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), setelah sempat melemah signifikan menyusul keputusan interim freeze rebalancing oleh MSCI.
Namun Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai, penguatan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan kepercayaan terhadap transparansi dan kredibilitas pasar saham Indonesia.
Hal tersebut tampak dari masih berlanjutnya aksi jual bersih (net outflow) investor asing, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA.
“Untuk saat ini, kami belum melihat tanda-tanda penguatan yang berkelanjutan, meskipun regulator dan bursa telah mengeluarkan sejumlah kebijakan guna memperbaiki persepsi, kredibilitas, serta tingkat investabilitas pasar,” ujar Rully, baru-baru ini.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi, sebelum MSCI mengumumkan keputusan final terkait status pasar saham Indonesia, risiko volatilitas IHSG masih tinggi dengan potensi berlanjutnya tekanan jual dari investor asing.
Baca Juga
IHSG Naik 3,49% ke 8.212 Pekan Ini, Sebaliknya Investor Asing justru Net Sell Saham Rp 5,47 Triliun
Ke depan, arah pergerakan IHSG berpotensi masih fluktuatif dalam jangka pendek, seiring ketidakpastian terkait keputusan akhir MSCI, arah arus modal asing, serta perkembangan sentimen eksternal seperti prospek pemangkasan suku bunga The Fed dan pergerakan harga komoditas global.
Dari sisi domestik, peluang penguatan masih terbuka jika kebijakan pemerintah dan regulator mampu menegaskan komitmen terhadap peningkatan tata kelola dan likuiditas pasar.
Rully merinci, stabilitas makroekonomi yang relatif terjaga, inflasi rendah, serta potensi pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia dapat menjadi katalis positif bagi saham-saham berorientasi domestik.
“Namun demikian, kami melihat investor akan tetap selektif hingga terdapat kepastian lebih lanjut mengenai status Indonesia dalam klasifikasi pasar MSCI serta arah kebijakan moneter global,” pungkasnya.

