Sentuh Level Tertinggi dalam 22 Bulan, Saham ASII bakal Lanjutkan Penguatan?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id –Saham PT Astra International Tbk (ASII) akhirnya berhasil menyentuh level Rp 6.000 pada perdagangan intraday Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir pekan ini. Level tersebut menjadi harga tertinggi saham grup konglomerasi ini terhitung sejak 2 November 2023 atau tertinggi dalam 22 bulan terakhir.
Pada peradagangan saham Jumat (26/9/2025), saham ASII sempat menembus level intraday tertinggi di sesi I Rp 6.000, meski akhirnya ditutup hanya naik Rp 100 (1,73%) menjadi Rp 5.875. Dengan kenaikan tersebut, saham ASII telah melesat sebanyak 5,38% disertai dengan net buy oleh investor asing Rp 42 miliar dalam sebulan terakhir dan mencapai 19% sepanjang year to date (ytd).
Baca Juga
Serius Ekspansi Bisnis Kesehatan, Astra International (ASII) Gelontorkan Investasi Rp 8,6 Triliun
Lalu, apakah saham ASII bisa menguat menuju level tertingginya Rp 9.350 yang pernah ditorehkan pada 24 April 2027? BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan pekan ini telah merevisi naik target harga saham ASII naik dari Rp 5.900 menjadi Rp 6.700 ditopang dua katalis utama, yaitu potensi program total shareholder return (TSR) serta ekspansi strategis ke segmen kendaraan hybrid mass-market. Target harga tersebut juga mengimplikasikan perkiraan PE tahun 2026 sekitar 9,5 kali, dibandingkan valuasi saaat ini baru mencapai 7,6 kali.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Sabela Nur Amalina dan Nasrullah Putra Sulaeman mengatakan, dengan posisi kas bersih ASII senilai Rp 53 triliun pada semester I-2025 atau setara 23% dari kapitalisasi pasar, ASII memiliki ruang yang sangat kuat untuk mengeksekusi program TSR, baik melalui pembagian dividen spesial maupun pembelian kembali saham (buyback).
“Pasar sudah lama menanti langkah ini dan sinyal dari manajemen belakangan terhadap pelaksanaan program TSR semakin terbuka. Karena TSR diyakini mampu untuk mendorong return on equity (ROE) saham ini hingga 13,6% di 2025 serta memperkecil valuasi gap yang selama ini membebani kinerja saham ASII,” tulisnya dalam riset tersebut.
Baca Juga
Selain faktor tersebut, kedua analis tersebut menyebutkan, secara operasional, Astra (ASII) didukung kuatnya pangsa pasar kendaraan roda empat yang berada di level 52,7% year-to-date (YTD). Pangsa pasar diprediksi makin kuat didukung peluncuran produk baru Rocky Hybrid telah mendapat sambutan positif dengan pemesanan sekitar 147 unit di ajang GIIAS 2025. Hal ini menegaskan besarnya minat konsumen terhadap teknologi hybrid.
Jika Daihatsu dan Toyota meluncurkan Avanza/Xenia Hybrid Electric Vehicle (HEV), dia mengatakan, Astra berpotensi mendapatkan tambahan penjualan sebanyak 10.000–15.000 unit per tahun. Tambahan ini setara 15–20% dari total penjualan Avanza-Xenia sekitar 70.000 unit per tahun atau sekitar 14% dari total penjualan roda empat ASII.
“Jika produk baru tersebut diluncurkan, pangsa pasar ASII diperkirakan melesat ke kisaran 53–55% sekaligus menjadi katalis pergeseran industri ke arah hybrid di tengah risiko depresiasi kendaraan listrik murni (BEV) dan keterbatasan infrastruktur pengisian daya,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Saham Astra International (ASII) Direvisi Naik, Dua Katalis Ini Jadi Penopang
Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi dengan target harga saham ASII direvisi naik. Pasar dinilai memberikan sikap pesimisme berlebihan terhadap saham ASII di tengah perbaikan fundamental. Target harga tersebut juga telah mempertimbangkan valuasi sejumlah anak usahanya, seperti PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Astra Graphia Tbk (ASGR), dan segmen bisnis keuangan.
Dengan posisi kas grup Rp 53 triliun (Rp 8 triliun kas bersih di luar segmen jasa keuangan) dan imbal hasil dividen ke depan di kisaran 6–7%, risiko penurunan harga saham ASII semakin terbatas. Saham ASII kini telah bergeser dari saham siklikal bernilai menuju high-yield compounder dengan posisi perseroan memimpin inudstri.

