Sejumlah Eksekutif Kripto Bagikan 6 Prediksi 'Stablecoin' untuk 2026, Seperti Apa?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Stablecoin kian bergeser dari sekadar instrumen kripto spekulatif menjadi bagian penting dari infrastruktur keuangan global. Dilansir dari Cointelegraph, Senin (5/1/2026), di tahun ini para eksekutif industri kripto memprediksi peran stablecoin akan semakin sentral, baik di pasar negara berkembang maupun sistem keuangan arus utama.
Berdasarkan pandangan 20 eksekutif kripto global, terdapat enam prediksi utama terkait arah perkembangan stablecoin pada 2026:
1. Stablecoin Menjadi Infrastruktur Keuangan Inti
Sejumlah pelaku industri meyakini 2026 akan menjadi titik balik stablecoin sebagai infrastruktur penyelesaian transaksi. Co-founder dan Chief Product Officer Neura Tyler Sloan menilai, stablecoin akan beralih dari “crypto primitives” menjadi fondasi settlement lintas DeFi dan sistem keuangan tradisional.
Hal serupa disampaikan Co-founder dan CEO FG Nexus Maja Vujinovic, yang memprediksi stablecoin akan menjadi “plumbing” dasar dalam pergerakan uang di internet, bekerja secara real-time, berbiaya rendah, dan nyaris tak terlihat oleh pengguna akhir.
2. Regulasi Jadi Katalis Pertumbuhan
Regulasi yang semakin jelas justru dipandang akan mendorong adopsi stablecoin. Managing Director Digital Sovereignty Alliance Adrian Wall menyebut, stablecoin berbasis dolar yang teregulasi akan terintegrasi langsung ke sistem pembayaran utama dan digunakan oleh bank, financial technology (fintech), hingga peritel.
Co-CEO Cosmos Labs Maghnus Mareneck menambahkan, regulasi akan memicu lahirnya penerbit stablecoin baru, termasuk dari perusahaan teknologi dan telekomunikasi, dengan dukungan aset fiat maupun real-world assets (RWA).
Baca Juga
JPMorgan Pangkas Ekspektasi Pertumbuhan Stablecoin Global, Apa Alasannya?
3. Stablecoin Mendorong Pembayaran Lintas Negara
Chief Legal Officer Open World Stephan Dalal, memperkirakan, stablecoin akan menangani sekitar 10%–15% volume transaksi lintas negara pada 2026. Stablecoin juga diproyeksikan menjadi tulang punggung payment rail pedagang global.
Di Asia, Co-founder StraitsX Tianwei Liu menilai, stablecoin akan hidup berdampingan dengan infrastruktur perbankan tradisional, bukan sebagai pesaing langsung.
4. Risiko Fragmentasi dan Kepercayaan Pasar
Meski prospeknya besar, tantangan tetap ada. CEO Concordium Boris Bohrer-Bilowitzki menilai, isu kepercayaan dan keamanan masih menjadi penghambat utama adopsi. Menurutnya, 2026 akan menjadi fase pemisahan antara hype dan utilitas nyata.
Sementara itu, Chief Legal Officer Centrifuge Eli Cohen memperingatkan, potensi bifurkasi pasar akibat perbedaan regulasi, yang dapat meningkatkan risiko bagi pengguna ritel, terutama pada stablecoin dengan mekanisme imbal hasil yang kompleks.
Baca Juga
5. Adopsi Institusi dan Korporasi Meningkat
Presiden OKX Hong Fang memprediksi, stablecoin akan semakin digunakan dalam konteks non-kripto, seperti pembayaran bisnis, pengelolaan kas perusahaan, B2B settlement, hingga payroll.
CEO Mercuryo Petr Kozyakov juga melihat peningkatan penerimaan merchant global dan integrasi yang lebih dalam dengan dompet digital. Stablecoin diperkirakan menjadi titik sentuh utama masyarakat terhadap ekosistem kripto.
6. Tokenized Deposits Jadi Penantang Baru
Di tengah dominasi stablecoin, tokenized deposits diprediksi muncul sebagai pesaing kuat. CEO Uphold Simon McLoughlin menyebut, tokenized deposits menawarkan representasi digital simpanan bank di blockchain dengan perlindungan regulasi seperti penjaminan simpanan.
Menurutnya, jika 2025 menjadi tahun stablecoin, maka 2026 berpotensi menjadi tahun tokenized deposits, terutama untuk use case yang membutuhkan stabilitas dan kepastian hukum perbankan.

