Suku Bunga Jepang Naik ke Level Tertinggi 3 Dekade, Bitcoin Naik ke US$ 87.000-an
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) menguat karena yen Jepang melemah setelah Bank Sentral Jepang (BOJ) menaikkan suku bunga seperti yang diperkirakan. Bank sentral Jepang menaikkan suku bunga kebijakan jangka pendeknya sebesar 25 basis poin menjadi 0,75%, level tertinggi dalam sekitar tiga dekade, melanjutkan pergeseran bertahap dari kebijakan moneter ultra-longgar selama beberapa dekade.
Dalam pernyataan kebijakan tersebut, BOJ mengakui bahwa inflasi telah bertahan di atas target 2% untuk jangka waktu yang lama karena meningkatnya biaya impor dan dinamika harga domestik yang lebih kuat. Namun, para pembuat kebijakan menekankan bahwa suku bunga yang disesuaikan dengan inflasi tetap negatif, yang menyiratkan bahwa kondisi moneter masih akomodatif bahkan setelah kenaikan tersebut.
Yen Jepang merosot menjadi 156,03 per dolar AS dari 155,67 setelah keputusan suku bunga tersebut. Bitcoin naik dari US$ 86.000 menjadi US$ 87.500 pada Jumat (19/12/2025) siang.
Baca Juga
Adopsi Bitcoin Meroket, Bhutan Alokasikan US$ 1 Miliar untuk Kembangkan Kota Ekonomi
Melansir Coindesk, reaksi pasar sesuai dengan ekspektasi, karena kenaikan suku bunga telah diantisipasi secara luas. Selain itu, para spekulator telah memegang posisi beli pada yen Jepang selama beberapa minggu, mencegah respons pembelian yen yang tajam setelah pengumuman tersebut.
Dalam beberapa minggu terakhir, beberapa pengamat telah menyatakan kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga dapat memperkuat yen, memicu pelepasan posisi beli yen (carry trade) dan sentimen penghindaran risiko yang luas.
Baca Juga
Bahas Blockchain dan Bitcoin, MTT PP Muhammadiyah Dorong Pemahaman Ilmiah dan Syariah
Selama beberapa dekade, suku bunga ultra-rendah atau bahkan negatif di Jepang menjadikan yen sebagai mata uang pendanaan pilihan untuk posisi beli. Investor meminjam dengan murah dalam yen untuk berinvestasi dalam aset dengan imbal hasil lebih tinggi, termasuk saham teknologi AS, obligasi pemerintah AS, dan obligasi pasar negara berkembang, yang memperkuat likuiditas global dan selera risiko. Strategi ini berkembang pesat selama suku bunga Jepang tetap berada di dekat nol, secara efektif menjadikan yen sebagai penggerak utama leverage dan pengambilan risiko di seluruh pasar keuangan global.
Oleh karena itu, prospek kenaikan suku bunga di Jepang membuat para investor yang optimis terhadap aset berisiko ketakutan. Namun, kekhawatiran ini terlalu berlebihan yang mencatat bahwa bahkan setelah kenaikan suku bunga, suku bunga Jepang akan tetap jauh lebih murah daripada suku bunga AS, sehingga tidak akan terjadi pelepasan carry trade secara besar-besaran.
Akumulasi Korporasi Berlanjut
Sebelumnya, pergerakan harga Bitcoin kembali menjadi sorotan menjelang akhir tahun setelah mengalami koreksi mingguan sebesar 6,48%. Tekanan jual yang meningkat memunculkan ketidakpastian di pasar, membuat pelaku pasar mencermati level teknikal penting, arus dana ETF, serta faktor makroekonomi global yang berpotensi memengaruhi arah harga selanjutnya.
Pada 15 Desember 2025, tekanan jual meningkat tajam dan memicu likuidasi posisi long senilai sekitar US$ 200 juta hanya dalam waktu satu jam. Kondisi tersebut mendorong harga Bitcoin turun menembus level support US$ 87.000 dan sempat menyentuh area US$ 85.000. Meski demikian, setelah koreksi tersebut, harga BTC mulai menunjukkan stabilisasi dan saat ini diperdagangkan di kisaran US$ 86.000.
Meski terjadi pemantulan harga, tekanan dari pihak bearish masih relatif dominan. Namun, rendahnya volume jual mengindikasikan bahwa penurunan ini lebih menyerupai koreksi sehat dibandingkan perubahan tren besar.
Dari sisi fundamental, investor institusional tercatat menarik dana dari spot Bitcoin ETF. Namun, di sisi lain, akumulasi oleh korporasi masih terus berlangsung dan menopang optimisme jangka panjang terhadap Bitcoin.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara pelaku pasar jangka pendek dan jangka panjang. “Penarikan dana dari ETF mencerminkan sikap hati-hati investor institusional terhadap kondisi makro saat ini. Namun, berlanjutnya akumulasi oleh korporasi menandakan bahwa kepercayaan terhadap fundamental Bitcoin sebagai aset lindung nilai jangka panjang masih cukup kuat,” ujarnya dalam riset dikutip Jumat (19/12/2025).
Secara teknikal, area US$ 88.000–US$ 89.000 menjadi zona krusial bagi Bitcoin. Jika mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, BTC berpotensi melanjutkan penguatan menuju area US$ 90.000 hingga US$ 95.000. Penembusan di atas US$95.000 dinilai dapat mengembalikan sentimen bullish dan membuka peluang uji ulang level psikologis US$ 100.000 sebelum akhir tahun.
Namun, risiko penurunan masih membayangi. Level support penting berada di US$85.000. Jika area ini gagal dipertahankan, Bitcoin berpotensi turun lebih dalam ke US$ 83.000, bahkan hingga US$ 80.500.
Fyqieh menjelaskan bahwa pergerakan di rentang ini akan sangat menentukan sentimen pasar. “Selama Bitcoin mampu bertahan di atas US$86.000, peluang pemulihan masih terbuka. Namun, kegagalan mempertahankan level tersebut bisa memicu fase konsolidasi lebih panjang dan menunda potensi reli hingga awal 2026,” jelasnya.
Selain faktor teknikal, pasar kripto juga dibayangi sentimen global, termasuk kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan. Secara historis, kebijakan pengetatan moneter Jepang kerap memicu volatilitas di aset berisiko, termasuk Bitcoin, akibat berkurangnya likuiditas dari yen carry trade.
Di sisi lain, level US$ 100.000 kini dipandang sebagai resistance kuat. Sejumlah analis global, termasuk CEO Galaxy Digital Mike Novogratz, menilai bahwa area tersebut menjadi zona jual bagi investor yang sebelumnya membeli di harga tinggi, sehingga berpotensi menahan laju kenaikan dalam jangka pendek.
Dengan kondisi saat ini, proyeksi harga Bitcoin berada pada fase netral ke bullish. Bertahan di atas US$ 86.000 menjaga skenario pemulihan tetap valid, sementara penembusan di atas US$ 92.000 berpotensi menggeser outlook pasar kembali ke arah bullish menjelang akhir tahun.
“Pasar masih membutuhkan katalis yang kuat untuk menembus resistance besar. Selama belum ada dorongan volume dan sentimen yang signifikan, pergerakan Bitcoin cenderung bergerak sideways dengan volatilitas tinggi,” tutup Fyqieh.

