Inflasi Inti Jepang Oktober Melonjak ke Level Tertinggi 3 Bulan, Dorong Kenaikan Suku Bunga BOJ
Poin Penting
- Inflasi inti Jepang pada Oktober naik ke 3%, tertinggi dalam tiga bulan dan sesuai ekspektasi pasar.
- Inflasi utama juga berada di 3%, melampaui target BOJ 2% selama 43 bulan berturut-turut.
- Yen menguat dan Menteri Keuangan memberi sinyal intervensi valuta asing, sementara Nikkei melemah.
- BOJ berada dalam tekanan: inflasi tinggi tetapi pertumbuhan ekonomi melemah, terutama akibat tarif AS.
TOKYO, investortrust.id - Inflasi inti Jepang pada Oktober naik ke laju tertingginya sejak Juli, sesuai perkiraan pasar. Angka inflasi ini, yang diumumkan Jumat (21/11/2025), memperkuat argumen untuk kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ).
Baca Juga
Inflasi Jepang Naik Pertama Kali Sejak Mei, Ujian Awal bagi PM Baru Takaichi
Inflasi inti—yang tidak memasukkan harga makanan segar—berada di 3%, sejalan dengan proyeksi ekonom dalam survei Reuters.
Dilansir CNBC, laju inflasi utama naik menjadi 3%, menandai bulan ke-43 berturut-turut berada di atas target BOJ sebesar 2%.
Inflasi “inti-inti”, yang menghapus komponen makanan segar dan energi, naik tipis menjadi 3.1%, dibandingkan 3% pada September.
Inflasi beras terus mereda selama lima bulan berturut-turut, turun ke 40.2% dari 49.2% pada bulan sebelumnya.
Indeks Nikkei 225 anjlok 1.58%, sementara yen menguat 0,1% menjadi 157,5 per dolar. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengisyaratkan kemungkinan intervensi pasar, dengan mengatakan ia “khawatir terhadap pergerakan tajam satu arah di pasar valuta asing,” menurut Reuters.
Penguatan yen dapat menekan inflasi domestik, tetapi juga membuat ekspor kurang kompetitif.
Data inflasi ini muncul setelah laporan bahwa Gubernur BOJ Kazuo Ueda menggelar pertemuan bilateral pertamanya dengan Perdana Menteri baru, Sanae Takaichi, awal pekan ini.
Dalam pertemuan tersebut, Ueda mengatakan bank sentral “secara bertahap menaikkan suku bunga untuk mengarahkan inflasi secara mulus menuju target 2% dan memastikan ekonomi mencapai pertumbuhan berkelanjutan,” menurut Reuters.
Takaichi secara historis mendukung kebijakan moneter longgar, dan awal bulan ini mengatakan di parlemen bahwa ia berharap BOJ “menjalankan kebijakan secara tepat” sehingga target inflasi 2% dicapai lewat kenaikan upah, bukan faktor pendorong biaya.
“Jenis inflasi yang kita lihat sekarang bukanlah inflasi yang baik,” kata Takaichi. Gubernur BOJ menambahkan bahwa Takaichi tidak mengajukan permintaan apa pun soal kebijakan moneter.
Baca Juga
BOJ kini berada dalam posisi sulit: inflasi melampaui target, sementara pertumbuhan PDB melemah seiring Jepang terpukul oleh tarif AS.
PDB Jepang dalam tiga bulan hingga September menyusut untuk pertama kalinya dalam enam kuartal, turun 0,4% secara kuartalan dan 1,8% secara tahunan.

