Superbank (SUPA) Tetapkan Harga IPO Rp 635 per Saham, Listing Pekan Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank menetapkan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham Rp 635 per saham, sehingga total dana yang bakal diraup mencapai Rp 2,79 triliun. Saham ini akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 17 Desember 2025.
Berdasarkan pengumuman resmi di BEI kemarin disebutkan bahwa SUPA telah meraih pernyataan efektif IPO saham pada 8 Desember 2025. Kemudian dilanjutkan dengan masa penawaran umum perdana saham pada 10-15 Desember 2025 dan pencatatkan di BEI pada 17 Desember 2025.
Baca Juga
Petrosea (PTRO) Memasuki Fase Pertumbuhan Kuat 2026, Intip Prospek dan Target Sahamnya
Superbank akan melepas sebanyak 4.406.612.300 saham biasa atas nama dengan nilai nominal Rp100 per saham. Jumlah tersebut setara 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Manajemen Superbank menjelaskan bahwa sekitar 70% dana hasil IPO akan digunakan sebagai modal kerja melalui penyaluran kredit. Sementara 30% sisanya dialokasikan untuk belanja modal, termasuk pengembangan produk dan teknologi informasi guna mendukung pertumbuhan usaha perseroan.
Aksi IPO Superbank ditangani oleh empat penjamin pelaksana emisi, yaitu PT Mandiri Sekuritas, PT CLSA Sekuritas Indonesia, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, dan PT Sucor Sekuritas. Masa book building berlangsung hingga 1 Desember 2025, dilanjutkan dengan masa penawaran umum pada 10–15 Desember 2025.
Setelah pelaksanaan IPO, struktur pemegang saham perseroan akan mencakup anak usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yakni PT Elang Media Visitama, serta Grab Holdings PT Kudo Teknologi Indonesia, A5–DB Holdings, GXS Bank, KakaoBank, dan Singtel Alpha Investments. Emtek dan Grab tercatat sebagai pemegang saham terbanyak.
Baca Juga
Valuasi IPO Saham Superbank Premium, Andalkan Ekosistem Emtek–Grab–OVO
Terkait kebijakan dividen, Superbank (SUPA) berkomitmen untuk membagikan dividen sebanyak-banyaknya 85% dari laba bersih tahun berjalan setelah resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pembagian dividen bisa dilakukan setelah saldo laba positif.
Manajemen melalui prospectus IPO saham SUPA menyebutkan bahwa jumlah pembayaran dividen akan bergantung pada sejumlah faktor, seperti pencapaian kinerja keuangan bank, tingkat rasio KPMM, tingkat Kesehatan Bank, kondisi keuangan Bank, ekspektasi pertumbuhan laba, dan kebutuhan permodalan Bank di masa depan.
Berdasarkan laporan kinerja keuangan, SUPA mencatatkan kenaikan pendapatan bunga menjadi Rp 904,49 miliar hingga semester I-2025, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 268,15 miliar. Kenaikan membuat perseroan mencatatkan laba Rp 20,50 miliar, dibandingkan periode sama tahun lalu dengan rugi bersih Rp 135,43 miliar.

