Bagikan

Valuasi IPO Saham Superbank Premium, Andalkan Ekosistem Emtek–Grab–OVO

JAKARTA, investortrust.id Initial public offering (IPO) saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank milik Grup Emtek, Grab, dan Singtel menjadi salah satu aksi korporasi yang paling dinantikan menjelang akhir tahun. IPO ini disebut sebagai momentum penting bagi industri bank digital di Indonesia, seiring meningkatnya minat pasar terhadap sektor keuangan berbasis teknologi.

Superbank dengan kode saham SUPA mematok harga book building di kisaran Rp 525–Rp 695 per saham, dengan potensi perolehan dana Rp 2,3–3 triliun. Sekitar 70% dana IPO dialokasikan untuk ekspansi penyaluran kredit, yang menunjukkan fokus perseroan pada percepatan pertumbuhan bisnis. Dengan total penawaran sekitar 4,4 miliar saham atau setara 13% kepemilikan pasca-IPO, valuasi Superbank diperkirakan mencapai Rp 17,8–23,5 triliun.

Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, harga IPO Superbank tampak premium jika dinilai dari pendekatan valuasi konvensional. Dengan laba bersih kuartal III-2025 sebesar Rp 60,12 miliar, rasio PER IPO berada di kisaran 296–392 kali. Bahkan jika laba tersebut diannualisasi menjadi sekitar Rp 240 miliar, PER tetap berada di 74–98 kali, jauh lebih tinggi dari bank konvensional maupun sejumlah bank digital yang telah melantai di bursa.

Baca Juga

Superbank (SUPA) Gelar IPO Saham, Simak Penggunaan Dana dan Kebijakan Dividen Berikut

Meski demikian, Hendra menegaskan bahwa tingginya PER justru menggambarkan growth premium, yakni ekspektasi pasar terhadap akselerasi pertumbuhan bank digital dalam 2–3 tahun ke depan. Investor global maupun lokal biasanya memberikan valuasi lebih tinggi pada bank digital karena prospek ekspansi pengguna, pertumbuhan kredit, serta efisiensi operasional yang semakin baik seiring peningkatan skala bisnis.

“IPO ini lebih cocok untuk investor yang memahami bahwa Superbank adalah cerita pertumbuhan, bukan valuasi jangka pendek,” ujar Hendra.

Kinerja Superbank dalam dua tahun terakhir juga mencerminkan transformasi signifikan menuju fase profitabilitas. Total kredit per September 2025 mencapai Rp 9,04 triliun atau tumbuh 84% yoy, sementara Dana Pihak Ketiga melonjak 203% yoy menjadi Rp 9,8 triliun. Rasio LDR di kisaran 92%, ditambah NPL gross 2,83% dan NPL net 1,21%, menunjukkan kualitas aset yang terjaga.

Superbank juga mencatat NIM 10–10,6%, jauh di atas rata-rata bank konvensional. Tingginya margin ini berasal dari fokus perseroan pada segmen kredit digital yang memiliki pricing power lebih kuat, termasuk UMKM, usaha mikro, dan kredit konsumsi berbasis ekosistem.

Baca Juga

Superbank (SUPA) Bidik Dana IPO Saham Rp 3,06 Triliun, Emtek dan Grab Dibelakangnya  

Keunggulan utama Superbank terletak pada kekuatan ekosistemnya. Sekitar 64,4% nasabah berasal dari kanal Grab dan OVO, sehingga biaya akuisisi relatif lebih efisien dibanding bank digital yang mengandalkan promosi agresif. Dengan basis pengguna aktif mencapai 4 juta, Superbank memiliki captive market besar yang sulit ditandingi pemain standalone. Kolaborasi antara Emtek, Grab, OVO, Singtel, dan KakaoBank menciptakan sinergi ekosistem yang kuat dalam hal teknologi, distribusi, media, dan big data.

Namun, Hendra mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati investor. Free float hanya sekitar 13% berpotensi membuat likuiditas saham terbatas dan meningkatkan volatilitas harga pada awal perdagangan. Ketergantungan yang besar pada kanal Grab dan OVO juga menimbulkan risiko strategis jika terjadi perubahan arah bisnis di masa depan. Selain itu, profitabilitas Superbank masih relatif baru, sehingga konsistensi pertumbuhan kredit dan laba perlu terus dipantau dalam beberapa kuartal mendatang.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024