Listing Perdana Superbank (SUPA) Hari Ini: Minat Investor Meledak, Sahamnya bakal ARA?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank akan menggelar listing perdana Rabu (17/12/2025). Saham bank digital ini akan listing perdana dengan harga penawaran Rp 635. SUPA merupakan salah satu lighthouse yang listing hari ini dengan freee float saham mencapai 15,07%.
Superbank merupakan bank digital yang masuk dalam ekosistem Emtek, Grab, dan SingTel. SUPA akan melepas sebanyak 4,40 miliar atau setara dengan 13% saham, sehingga total dana yang bakal diraup mencapai Rp 2,79 triliun. Jumlah saham free float SUPA akan mencapai 5,05 miliar atau 15,07% dari jumlah saham tercataat. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi PT CLSA Sekuritas Indonesia, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM), dan PT Sucor Sekuritas.
Baca Juga
IPO Superbank (SUPA) Oversubscribed 318 Kali, Pesanan Investor Tembus 1 Juta Order
Selama masa penawaran saham, permintaan saham IPO Superbank mengalami kelebihan permintaan (oversubscription) hingga 318,69 kali, dengan total pemesanan investor melampaui 1 juta order.
Penjamien emisi menilai bahwa permintaan tinggi ini sebagai cerminan kuatnya antusiasme pasar terhadap prospek SUPA sebagai bank digital. Capaian ini mengukuhkan SUPA sebagai salah satu IPO terbesar di sektor perbankan digital Indonesia, sekaligus mempertegas kepercayaan investor terhadap transformasi digital industri keuangan nasional.
CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya menilai tingginya permintaan pada IPO Superbank sebagai sinyal positif bagi pasar modal Indonesia. “IPO SUPA mencetak rekor dengan tingkat oversubscription mencapai 318 kali dan permintaan investor lebih dari 1 juta order. Ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental dan prospek Superbank. Respons seperti ini menandakan bahwa appetite investor terhadap IPO sektor perbankan digital masih sangat kuat,” ujar Bernadus.
Oversubscribed yang tinggi pada IPO Superbank diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap likuiditas perdagangan saham setelah pencatatan, sekaligus menjadi katalis bagi pengembangan sektor perbankan digital di Indonesia. Dengan permintaan yang sangat kuat menjelang pencatatan saham, IPO Superbank menjadi salah satu aksi korporasi yang paling menyita perhatian investor pada penghujung 2025.
Baca Juga
Valuasi IPO Saham Superbank Premium, Andalkan Ekosistem Emtek–Grab–OVO
Terkait penggunaan dana hasil IPO saham, Superbank mengalokasikan sekitar 70% untuk modal kerja dalam rangka penyaluran kredit Perseroan. Sisanya, sekitar 30% dialokasikan untuk belanja modal perseroan yang akan dilakukan secara bertahap mulai dari tahun 2026 hingga 5 tahun ke depan guna pengembangan produk perseroan.
Sejumlah pengembangan produk yang disiapkan adalah pembiayaan, dan sistem pembayaran dengan fokus pada solusi digital bagi retail dan UMKM guna mendukung pertumbuhan berkelanjutan, dan didukung oleh pengembangan teknologi informasi (IT) yang saling melengkapi, melalui investasi pada infrastruktur, sistem operasional, AI & Data Analytics, serta peningkatan cybersecurity untuk membangun fondasi digital yang kuat, aman, dan efisien.
Valuasi Premium
Sementara itu, Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, harga IPO saham Superbank (SUPA) tampak premium, jika dinilai dari pendekatan valuasi konvensional. Dengan laba bersih kuartal III-2025 sebesar Rp 60,12 miliar, rasio PER IPO berada di kisaran 296–392 kali. Bahkan jika laba tersebut diannualisasi menjadi sekitar Rp 240 miliar, PER tetap berada di 74–98 kali, jauh lebih tinggi dari bank konvensional maupun sejumlah bank digital yang telah melantai di bursa.
Meski demikian, Hendra menegaskan bahwa tingginya PER justru menggambarkan growth premium, yakni ekspektasi pasar terhadap akselerasi pertumbuhan bank digital dalam 2–3 tahun ke depan. Investor global maupun lokal biasanya memberikan valuasi lebih tinggi pada bank digital karena prospek ekspansi pengguna, pertumbuhan kredit, serta efisiensi operasional yang semakin baik seiring peningkatan skala bisnis.
Baca Juga
Superbank (SUPA) Tetapkan Harga IPO Rp 635 per Saham, Listing Pekan Depan
“IPO ini lebih cocok untuk investor yang memahami bahwa Superbank adalah cerita pertumbuhan, bukan valuasi jangka pendek,” ujar Hendra.
Kinerja Superbank dalam dua tahun terakhir juga mencerminkan transformasi signifikan menuju fase profitabilitas. Total kredit per September 2025 mencapai Rp 9,04 triliun atau tumbuh 84% yoy, sementara Dana Pihak Ketiga melonjak 203% yoy menjadi Rp 9,8 triliun. Rasio LDR di kisaran 92%, ditambah NPL gross 2,83% dan NPL net 1,21%, menunjukkan kualitas aset yang terjaga.
Superbank juga mencatat NIM 10–10,6%, jauh di atas rata-rata bank konvensional. Tingginya margin ini berasal dari fokus perseroan pada segmen kredit digital yang memiliki pricing power lebih kuat, termasuk UMKM, usaha mikro, dan kredit konsumsi berbasis ekosistem.

