Petrosea (PTRO) Memasuki Fase Pertumbuhan Kuat 2026, Intip Prospek dan Target Sahamnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Petrosea Tbk (PTRO) memasuki fase pertumbuhan kuat mulai 2026 ditopang perolehan total backlog kontrak US$ 4,5 miliar. Kinerja perseroan juga akan didukung perluasan bisnis ke segmen EPC/EPCI melalui akuisisi Hafar dan Scan-Bilt.
Hal ini mendorong Samuel Sekuritas dalam riset perdananya merekomendasikan spec-buy saham PTRO dengan target harga Rp 17.000 atau mencerminkan peluang penguatan lebih dari 58% dari harga terakhirnya. Kenaikan juga didukung peluang saham ini masuk dalam perhitungan MSCI big cap.
Baca Juga
Ditopang Faktor Ini, Laba Atribusi Petrosea (PTRO) Melesat 142% hingga Kuartal III-2025
Analis Samuel Sekuritas Juan Harahap dalam riset yang diterbitkan kemarin mengatakan nilai kontrak jumbo yang sudah dipegang perseroan tentu memberikan visibilitas pendapatan jangka panjang. “Setelah periode pelemahan kinerja akibat biaya pra-operasional dan minimnya kontribusi aset baru, perusahaan kini menapaki momentum ekspansi besar di segmen tambang dan EPC,” tulisnya dalam riset tersebut.
Sepanjang 2024, PTRO mengamankan sekitar US$ 1,9 miliar kontrak baru yang mencakup proyek EPC untuk BP Berau, proyek HPAL Vale di Pomalaa, dan Daya Bumindo Karunia (CUAN), serta kontrak jasa pertambangan bersama Pasir Bara Prima (SINI) dan Global Bara Mandiri.
Estimasi Kinerja Keuangan PTRO
Memasuki 2025, emiten yang dikendalikan oleh Prajogo Pangestu ini (PTRO) kembali menambah sekitar US$ 1,5 miliar melalui kontrak tambang dengan Niaga Jasa Dunia, Bara Prima Mandiri, Freeport Indonesia, serta kontrak 10 tahun penanganan overburden Vale INCO di Bahodopi, Sulawesi.
“Kontrak-kontrak ini didukung klien blue-chip, seperti Vale, Freeport, BP Berau, dan ekosistem CUAN, memperkuat posisi PTRO sebagai mitra strategis dalam rantai nilai sumber daya mineral Indonesia,” terangnya.
PTRO juga telah memperluas bisnis ke segmen EPC/EPCI melalui akuisisi Hafar dan Scan-Bilt dan sekaligus meningkatkan eksposur pada proyek internasional. Menurut dia, keputusan ini akan mengerek margin EBITDA menjadi di atas 19,2% pada 2026, dibandingkan tahun 2024 sekitar 14%. Return on equity (ROE) diperkirakan naik ke 13% dari sebelumnya hanya 3,9%, seiring ramp-up proyek-proyek besar.
Baca Juga
Petrosea (PTRO) Rampungkan Akuisisi 60% Saham Scan-Bilt (SBPL)
Samuel Sekuritas memperkirakan kenaikan pendapatan PTRO menjadi US$ 1,35 miliar pada 2026, dibandingkan perkiraan tahun 2025 senilai US$ 847 juta dan realisasi 2024 mencapai US$ 691 juta. Begitu juga dengan laba bersih diharapkan melesat menjadi US$ 61 juta pada 2026 dan US$ 10 juta pada 2025, dibandingkan realisasi tahun 2024 sebanyak US$ 10 juta.
Guna mendukung monetisasi backlog serta diversifikasi bisnis, dia mengatakan, PTRO telah mengamankan pendanaan melalui penerbitan obligasi dan sukuk pada Desember 2024 dan Maret 2025 senilai total Rp 3 triliun. Instrumen dengan tenor 1–7 tahun dan kupon 6,5–9,5% ini dialokasikan terutama untuk modal kerja, yakni 67% untuk material dan layanan serta 25% untuk kebutuhan tenaga kerja.
Dengan kinerja yang diperkirakan mengalami tren penguatan dengan pertumbuhan pesat pendpatan serta ROE mulai 2026, Juan mengatakan, saham PTRO memiliki ruang kenaikan signifikan. Peluang price re-rating juga didukung potensi masuknya PTRO ke indeks MSCI big cap.

