IHSG Sesi I Ditutup Jatuh 2,94%, Sejumlah Faktor Ini Jadi Peneka Utama
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan sesi I, Senin (27/10/2025), ditutup anjlok hingga 243 poin (2,94%) menjadi 8.028. Bahkan, sempat anjlok lebih dari 4% ke level 7.959 dengan nilai transaksi Rp 17,40 triliun.
Penurunan indeks dipicu atas kejatuhan seluruh sektor saham dengan penurunan paling dalam melanda saham sektor energi 4,45%, sektor property 4,53%, sektor industry melemah 3,76%, sektor infrastruktur 3,05%, dan sektor konsumer primer 2,86%. Penurunan juga melanda saham sektor konsumer primer 2,86%.
Baca Juga
Usai Umumkan Kenaikan Kinerja, Dharma Polimetal (DRMA) akan Akuisisi Perusaahan Komponen Ini
Sedangkan saham penekan utama indeks sesi I datang dari emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu, seperti BREN jtuh 12,26% menjadi Rp 8.050, BRPT anjlok 12,36% menjadi Rp 3.190, COIN turun 14,78% menjadi Rp 2.480. Saham lainnya DSSA jatuh 13,42% menjadi Rp 88.200 dan MLPT anjlok 9,44% menjadi Rp 76.750.
Meski anjlok sejumlah saham berikut catatkan kenaikan hingga auto reject atas (ARA), seperti saham BRRC naik 34,82% menjadi Rp 151, MICE naik 25% menjadi Rp 650, dan SSTM naik 25% menjadi Rp 560. Lompatan juga melanda saham BABY naik 23,38% menjadi Rp 496, GPSO naik 21,43% menjadi Rp 850, dan REAL menguat 20,29% menjadi Rp 83.
Terkait kejatuhan indeks sesi I hari ini, Technical Analyst MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyampaikan, penurunan IHSG tersebut sejalan dengan analisis teknikal yang telah dipublikasikan sebelum perdagangan dimulai. “Seperti yang kami sampaikan pada report teknikal tadi pagi, kami masih mencermati adanya potensi koreksi dari IHSG yang mana saat ini sedang terjadi,” ujar Herditya atau Didit, Senin (27/10/2025).
Menurut dia, tekanan jual terutama datang dari saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), baik dari perbankan besar maupun kelompok usaha konglomerasi. “Diperkirakan terdapat rumor mengenai adjustment MSCI method terkait free float,” katanya.
Baca Juga
IHSG Turun Hampir 4%, Analis: Volatil tapi Sudah Terprediksi
Didit menjelaskan, rumor yang beredar menyebutkan peluang MSCI melakukan penghitungan ulang atas free float saham Indonesia agar lebih diperketat. Kondisi tersebut berpotensi memicu aliran dana keluar (outflow) dari pasar domestik.
Meski IHSG beberapa kali mencatat penurunan lebih dari 3% dalam beberapa waktu terakhir, Didit menilai volatilitas tersebut tidak bersifat mengejutkan. “Untuk volatile bisa dikatakan demikian, namun tidak terlalu mengejutkan,” pungkasnya.

