BBNI Bersiap Pimpin Reli Saham Sektor Perbankan, Begini Prospek Harganya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menunjukkan ketangguhannya di tengah tekanan pasar saham. Dengan kinerja solid dan fundamental yang kuat, saham bank pelat merah ini dinilai berpotensi memimpin reli sektor perbankan saat sentimen pasar berbalik positif.
Pada perdagangan Senin (20/10/2025), saham BBNI menjadi salah satu yang mencatatkan penguatan signifikan. Dibuka di level Rp3.870, saham BBNI sempat menyentuh Rp 4.110 dan ditutup di Rp 4.040 atau menguat 6,32%. Kenaikan kembali berlanjut pada perdagangan kemarin.
Baca Juga
Transformasi Digital dan Diversifikasi Kredit Jadi Pilar Kinerja BNI (BBNI) di Semester I 2025
Analis Ciptadana Sekuritas Asia Erni Marsella Siahaan mengatakan, valuasi saham BBNI saat ini tergolong rendah, sehingga menawarkan peluang cuan besar. “Valuasi yang terlalu rendah menawarkan potensi kenaikan ketika sentimen pasar membaik. BBNI tetap menjadi salah satu pilihan paling defensif di sektor perbankan Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi,” jelasnya (21/10/2025).
Potensi penguatan tersebut didukung kinerja keuangan perseroan hingga Agustus 2025, BBNI mencatat laba bersih Rp 13,4 triliun atau hanya turun 5,7% dibandingkan tahun lalu — lebih baik dibandingkan BMRI dan BBRI yang penurunannya mencapai 8–10%. Pertumbuhan kredit BBNI tetap terjaga di kisaran 8% dengan rasio kredit bermasalah (NPL) rendah di 1,95%.
Dari sisi efisiensi, rasio dana murah (CASA) tetap dominan, menjaga beban bunga tetap ringan. Erni menilai strategi ekspansi yang hati-hati menjadi bukti kematangan manajemen risiko BNI. “BNI disiplin menjaga kualitas aset tanpa kehilangan momentum pertumbuhan,” ujarnya.
Baca Juga
Begini Jurus BNI (BBNI) Dorong Kinerja Bisnis di Semester II 2025
Selain itu, dukungan likuiditas pemerintah sebesar Rp 55 triliun ke perseroan menjadi katalis penting bagi sektor perbankan, termasuk BBNI. Dana ini memperkuat likuiditas jangka pendek dan menekan biaya dana (cost of fund) secara bertahap.
Secara valuasi, saham BBNI dinilai undervalued dengan PBV 0,92x atau di bawah rata-rata industri 1x. Dengan P/E 5,5x dan proyeksi pertumbuhan laba 14%, rasio PEG BBNI hanya 0,4x, menunjukkan harga sahamnya masih jauh lebih murah dibandingkan kinerjanya.
Jika pasar mulai menilai saham berdasarkan prospek pertumbuhan, harga wajar BBNI bisa mencapai Rp 9.500– 10.000 per saham, atau sekitar 150% di atas harga saat ini di kisaran Rp3.800–Rp4.000.
Jangka Panjang
Meski fundamental kuat, sentimen terhadap saham bank BUMN masih tertahan. Dalam 12 bulan terakhir, BBNI terkoreksi 6,9%, lebih kecil dibandingkan BBRI (-27,8%) dan BMRI (-41,9%). Namun, bagi investor jangka menengah dan panjang, kondisi ini justru menjadi peluang menarik.
Baca Juga
IHSG Berpeluang ATH Baru, Tiga Saham Dipimpin JMSR Layak Dilirik
Dividend yield BBNI menggiurkan atau mencapai 9,42%, tertinggi di antara bank besar, menjadi magnet bagi investor yang mencari nilai jangka panjang. Dengan fundamental kuat, manajemen risiko disiplin, dan likuiditas membaik, BBNI dinilai berada di posisi ideal untuk memimpin pemulihan sektor perbankan.
“BBNI tetap menjadi salah satu bank dengan fundamental paling resilien dan valuasi paling menarik di sektor perbankan Indonesia,” tegas riset Ciptadana Sekuritas Asia.

