Anjlok 1,95% ke Level 8.060 Dinilai Wajar, IHSG Tengah Masuk Fase Konsolidasi
JAKARTA, investortrust.id — Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup merosot 160,68 poin atau 1,95% ke level 8.060 pada perdagangan Selasa (14/10/2025). Penurunan dipicu atas aksi ambil untung saham-saham konglomerasi.
Tekanan jual tajam terjadi pada saham-saham konglomerasi yang selama ini menjadi motor penggerak indeks, seperti saham emiten milik Prajogo Pangestu, Haji Isam, Happy Hapsoro, serta saham bank besar. Aksi jual tersebut sejalan dengan penurunan mayoritas indeks saham global.
Baca Juga
Bahlil Ungkap Insiden Tambang Freeport Ganggu Pasokan Emas Antam (ANTM)
Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, menilai penurunan IHSG kali ini merupakan kombinasi faktor eksternal dan aksi ambil untung setelah reli cukup panjang. “Pelemahan IHSG hari ini terjadi karena gabungan faktor global dan profit taking. Secara teknikal, indeks sudah overbought, jadi wajar jika investor merealisasikan keuntungan, apalagi arus jual asing masih berlanjut,” ujar Reydi kepada investortrust.id, Selasa (14/10/2025).
Ia menambahkan, tekanan semakin dalam karena saham-saham berkapitalisasi besar ikut melemah. “Koreksi makin dalam karena saham konglomerasi juga turun membuat indeks kehilangan penopang,” lanjutnya.
Dari sisi eksternal, kekhawatiran terhadap potensi eskalasi perang dagang AS–China kembali menekan bursa Asia. Di dalam negeri, defisit APBN yang diumumkan pemerintah memunculkan ekspektasi penerbitan surat utang baru dengan imbal hasil tinggi, mendorong sebagian investor beralih ke obligasi.
Baca Juga
Net Sell Melanda Rp 1,36 Triliun, Asing Obral Saham BBRI, BBCA, dan BMRI
Meski begitu, Reydi menegaskan tekanan IHSG masih tergolong wajar. “Menurut saya, pelemahan ini hanya fase konsolidasi setelah kenaikan panjang, belum menjadi tanda pembalikan tren,” tegasnya.
Senada, riset Eastspring Investments Indonesia menyebut koreksi IHSG dipicu aksi jual saham konglomerasi besar yang sebelumnya naik signifikan. Pergeseran sentimen pasar dimanfaatkan investor untuk aksi ambil untung, menambah tekanan pada indeks secara keseluruhan.
Saham perbankan besar juga tidak luput dari tekanan. Beberapa yang mencatatkan penurunan cukup dalam antara lain BBRI 3,01%, BRPT 6,41%, CUAN 13%, TPIA 7,14%, dan BMRI 3,31%.
Baca Juga
Sementara itu, pasar obligasi domestik melanjutkan penguatannya dan berpotensi mencatat kenaikan untuk hari kesepuluh berturut-turut. Reli tersebut didorong optimisme terhadap kemungkinan penurunan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun turun sekitar 3 basis poin ke kisaran 6,07%, menandakan tingginya permintaan terhadap surat utang negara. Adapun nilai tukar rupiah bergerak stabil di sekitar Rp 16.603 per dolar AS, melemah tipis 0,18%.
Eastspring menilai koreksi pasar saat ini menjadi momentum bagi investor melakukan rebalancing portofolio serta memperluas eksposur ke berbagai alokasi aset sesuai profil risiko dan tujuan jangka panjang. “Dengan tetap tenang, disiplin, dan konsisten menerapkan strategi investasi jangka panjang, investor dapat mengelola risiko sekaligus mengoptimalkan potensi kinerja portofolio,” tulis Eastspring Investments Indonesia.

