Lewati Fase Konsolidasi, Saham EMAS Diprediksi Bullish Menuju Level Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) diproyeksikan bergerak bullish dalam jangka menengah, dengan peluang menembus level Rp 5.000. Arah ini diperkirakan tercapai setelah saham EMAS melewati fase konsolidasi pasca-IPO dalam jangka pendek.
“Tren jangka menengah diperkirakan bullish dengan target di atas harga IPO, didukung prospek fundamental yang solid. Target Rp 5.000 dalam medium term masih terbuka,” jelas Pengamat Pasar Modal Wahyu Tri Laksono kepada Investortrust, di Jakarta, belum lama ini.
Beberapa katalis bullish saham EMAS antara lain sentimen positif IPO, di mana saham ini langsung melesat 25% pada debutnya. Hal tersebut dinilai menunjukkan tingginya antusiasme pasar dan dapat menciptakan momentum penguatan dalam jangka pendek.
Baca Juga
Harga Wajar Saham Merdeka Gold (EMAS) Rp 7.900! Begini Perhitungannya
Selain itu, Proyek Emas Pani menjadi pendorong utama karena target produksi yang besar. Perkembangan proyek, termasuk dimulainya produksi, diyakini akan menjadi katalis positif harga saham. Pergerakan saham EMAS juga memiliki korelasi kuat dengan harga emas global. Jika harga emas naik, saham EMAS berpotensi ikut terdorong.
Meski demikian, Wahyu mengingatkan adanya risiko tekanan harga. Dalam jangka pendek, saham anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ini bisa mengalami aksi ambil untung (profit taking) usai kenaikan saat IPO. Volatilitas harga emas global juga dapat memicu koreksi, meski tren jangka panjang tetap positif.
Prospek Kinerja Keuangan
Secara fundamental, Merdeka Gold Resources (MGR) memiliki proyek strategis Emas Pani yang dirancang sebagai tambang berbiaya rendah dengan kapasitas produksi puncak hingga 500.000 ounce emas per tahun. Proyek ini ditargetkan memulai produksi kuartal I-2026 dan akan menjadi pendorong pendapatan serta laba perusahaan.
Wahyu menilai dukungan finansial dari induk usaha, Merdeka Copper Gold, menunjukkan kondisi operasional yang solid. Namun, ada tantangan pada tahap transisi produksi awal yang bisa memengaruhi kelancaran operasional. Selain itu, kinerja keuangan sangat bergantung pada harga emas global. Jika harga emas terkoreksi, pendapatan perusahaan ikut tertekan.
“Secara keseluruhan, prospek kinerja EMAS sangat menjanjikan dengan dimulainya produksi proyek utama. Namun, realisasinya tetap ditentukan oleh keberhasilan operasional dan tren harga emas global,” jelas Wahyu.
Prospek Bisnis Emas
Sebagai komoditas utama, harga emas diprediksi melanjutkan tren kenaikan meski volatilitas jangka pendek tetap ada. Menurut Wahyu, sejumlah lembaga keuangan global seperti J.P. Morgan, Goldman Sachs, Deutsche Bank, dan UBS memiliki pandangan bullish terhadap emas.
Prediksi harga emas ditempatkan di kisaran US$ 3.800–US$ 4.000 per troy ounce pada akhir 2025, bahkan berpotensi menembus US$ 5.000 per troy ounce pada 2026. Katalis kenaikan emas meliputi ketidakpastian ekonomi, geopolitik, hingga ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada akhir 2025 atau awal 2026.
Baca Juga
Semester II-2025, Harga Emas Dipercaya Tembus US$ 3.850 per ‘Troy Ounce’
“Suku bunga yang lebih rendah akan melemahkan Dolar AS dan menurunkan daya tarik obligasi, membuat emas lebih menarik sebagai aset investasi,” ujarnya.
Pelemahan Dolar AS juga menjadikan emas lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga mendorong permintaan. Selain itu, bank sentral negara berkembang, termasuk China, terus meningkatkan cadangan emas, menciptakan dorongan kuat harga.
“Emas terbukti menjadi instrumen lindung nilai efektif terhadap inflasi. Dengan kekhawatiran inflasi global yang berlanjut, permintaan emas akan tetap tinggi,” pungkas Wahyu.

