Koreksi Bitcoin Dinilai Wajar, Layaknya Saham Apple dan Amazon Dulu
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Eksekutif Strategy, Michael Saylor, membandingkan koreksi harga Bitcoin saat ini dengan fase tekanan panjang yang pernah dialami saham raksasa teknologi Apple dan Amazon sebelum menjadi pemimpin pasar global.
Pernyataan tersebut disampaikan Saylor di tengah volatilitas pasar kripto. Bitcoin kini diperdagangkan di kisaran US$ 64.000-an, setelah sebelumnya sempat turun di bawah US$ 63.000.
Saylor menilai penurunan hampir 50% dari rekor tertinggi di atas US$ 124.000 pada Oktober lalu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ia menyebut baru 137 hari berlalu sejak puncak harga terakhir, periode yang menurutnya masih sangat singkat untuk menilai arah jangka panjang aset tersebut.
Baca Juga
Harga Bitcoin Masih Betah di Zona Merah, Sinyal 'Crypto Winter' Kian Menguat
“Sudah 137 hari sejak harga tertinggi sepanjang masa terakhir, itu empat setengah bulan,” ujar Saylor melansir The Street, Rabu (25/2/2026).
Menurut Saylor, teknologi transformatif kerap melalui fase panjang ketika diabaikan oleh investor arus utama. Ia mencontohkan Apple yang membutuhkan waktu sekitar 13 tahun sejak 2007 hingga benar-benar mendapat pengakuan luas pasar. Setelah mencetak rekor pada 2012, saham Apple sempat turun sekitar 45% dan baru pulih penuh tujuh tahun kemudian, dengan rasio valuasi yang sempat jatuh tajam.
Baca Juga
Michael Saylor dan Vitalik Buterin Beda Pendapat Soal Ancaman Kuantum di Tengah Pelemahan Bitcoin
Ia juga menyinggung perjalanan Amazon yang menghadapi skeptisisme investor selama hampir satu dekade. Keraguan terhadap valuasi perusahaan tersebut baru mereda pada 2020, seiring perubahan besar dalam perilaku konsumen global saat pandemi.
Saylor menegaskan bahwa volatilitas dan tekanan harga merupakan bagian dari proses pematangan teknologi baru. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa aset inovatif kerap membutuhkan waktu panjang sebelum akhirnya diterima dan dihargai secara luas oleh pasar.

