Saham Diamond Citra (DADA) Keluar dari Papan Pemantauan Khusus, Siap Tancap Gas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Emiten pengembang properti PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) resmi keluar dari papan pemantauan khusus atau full call auction (FCA) di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah menunjukkan peningkatan likuiditas signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI Teuku Fahmi Ariandar mengonfirmasi bahwa saham DADA dipindahkan dari papan pemantauan khusus ke papan pengembangan, efektif mulai Jumat (10/10/2025). Langkah ini sekaligus menandai dibukanya kembali suspensi perdagangan saham DADA yang sempat dihentikan sementara pada Kamis (9/10/2025).
Dikutip Investing, pada perdagangan sesi I hari Jumat (9/10/2025), saham DADA naik Rp 2 (1,12%) menjadi Rp 180 dengan volume transaksi mencapai 29,471 miliar saham senilai Rp 561,105 miliar. Saham sempat menyentuh level tertinggi Rp 240 dan terendah Rp 177.
Baca Juga
Saham Diamond Citra (DADA) Naik 246,1% dalam Sebulan, Jadi Target Investor Global Vanguard?
Kinerja DADA mencuri perhatian pelaku pasar modal. Sejak awal Januari 2025, harga sahamnya naik dari Rp 8 ke Rp 178 pada 9 Oktober 2025, atau melonjak 2.125% secara year-to-date. Dalam 3 bulan terakhir saja, kenaikannya menembus 2.448%, menjadikannya salah satu saham multibagger paling agresif di BEI.
Kenaikan ini terjadi meski DADA masih berada di bawah pembatasan ketat FCA. Status tersebut sebelumnya diterapkan karena rendahnya nilai transaksi dan aktivitas perdagangan. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, frekuensi dan volume transaksi meningkat pesat, menandakan kembalinya minat investor terhadap saham properti ini.
“DADA itu seperti mobil balap Formula 1 yang tetap melesat meski rem tangannya belum dilepas,” ujar Devlin Gabriel, investor ritel saham, kepada wartawan di Jakarta, Kamis (9/10/2025).
Dia menilai, peluang ini tentu bisa dimanfaatkan oleh investor untuk menangkap fenomena kenaikan yang luar biasa.”
Efek lepas dari FCA
Keluarnya DADA dari FCA dianggap sebagai sinyal positif besar. Selama berada di daftar tersebut, saham DADA dibatasi oleh mekanisme auto rejection ketat yang menahan volatilitas dan kenaikan harian.
Analis menilai, dengan pembatasan itu kini dicabut, DADA berpotensi mengalami reli gelombang kedua. Efek yang diantisipasi, antara lain peningkatan likuiditas, kembalinya investor institusi, dan partisipasi pasar yang lebih luas. “Kalau selama ini DADA bisa naik ribuan persen dalam kondisi ‘direm’, bayangkan jika rem itu dilepaskan,” ujar Devlin.
Sentimen terhadap DADA juga semakin memanas dengan beredarnya rumor bahwa perusahaan tersebut menjadi incaran The Vanguard Group, manajer investasi raksasa asal Amerika Serikat yang mengelola aset lebih dari 50 kali APBN Indonesia. Selain itu, dua konglomerasi properti besar asal Jepang yang terhubung dengan portofolio Vanguard dikabarkan siap masuk melalui skema kemitraan strategis. Jika terealisasi, masuknya investor global ini dapat membawa arus modal besar dan mempercepat ekspansi bisnis DADA di sektor properti nasional.
Secara fundamental, DADA terus memperkuat struktur bisnis dan memperluas portofolio proyek. Dengan prospek pasar properti yang kembali pulih dan meningkatnya arus investasi asing, analis memperkirakan potensi kenaikan jangka panjang harga saham DADA masih terbuka lebar.
Baca Juga
Ketika free float mulai memenuhi syarat bagi investor asing, saham ini akan semakin menarik. “Dengan kombinasi fundamental yang solid, momentum teknikal yang kuat, dan potensi strategis dari investor global, harga DADA belum menyentuh langitnya,” ujar Devlin.
Dari sisi kinerja keuangan, DADA membukukan peningkatan pendapatan menjadi Rp 5,39 miliar pada semester I-2025, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 3,81 miliar.Laba bersih tahun berjalan juga melesat dari Rp 71,65 juta menjadi Rp 219,67 juta.
PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) telah mengembangkan 20 proyek residensial, 2 kompleks ruko, 1 gedung tinggi, 2 gedung bertingkat rendah, dan 2 proyek bertingkat rendah mendatang di Depok dan Jakarta. Beberapa proyek besar tersebut adalah Apple Condovillas, klaster Neo Cyprus, klaster Neo Arcadia, Apartemen Gucii 1, Aparthouse Puri Kemang, Apartemen Dave, Primehome at Pejaten, dan townhouse Vanadium.

