Saham Diamond Citra (DADA) Melesat hingga Diburu di Pasar Negosiasi, Bakal Backdoor Listing?
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) berhasil mencatatkan penguatan haga signifikan mencapai 111,11% menjadi Rp 19 dalam sebulan terakhir. DADA berhasil torehkan penguatan hingga auto reject atas (ARA) dalam delapan hari perdagangan terakhir.
Berdasarkan, saham emiten yang ditransaksikan di papan pemantauan khusus (PPK) dengan mekanisme full call auction (FCA) ini ditutup pada harrga Rp 8 per saham akhir Juli. Kini, harga saham DADA telah bertengger di level Rp 19 pada penutupan perdagangan sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (21/8/2025).
Baca Juga
Kenaikan Saham Diamond Citra (DADA) Berkaitan dengan ‘Backdoor Listing’? Simak Peluang & Risikonya
Tak hanya itu antrian investor yang membeli saham pengembang property ini juga membludak ditunjukkan dengan bid beli sebanyak 866,7 juta saham dengan harga Rp 19 per saham. Hal ini menjadi fenomena langka yang biasanya hanya terjadi pada saham-saham primadona incaran investor besar.
Bahkan, terpantau saham DADA telah ditransaksikan di level Rp 30-55 per saham di pasar negosiasi sepanjang sesi I hari ini atau jauh di atas harga pasar regular Rp 19. Lonjakan harga di pasar negosiasi kerap menjadi indikator awal dari perubahan kepemilikan atau strategi investasi jangka panjang. Ini bukan pergerakan ritel biasa.
Pola pergerakan ini tidak hanya menunjukkan ketertarikan investor besar terhadap fundamental perusahaan yang mulai mencuat, tetapi juga sinyal adanya aksi korporasi atau restrukturisasi besar yang belum diumumkan secara resmi ke public.
Fenomena demikian pernah melanda saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), dari saham recehan dan dipandang sebelah mata, berubah menjadi primadona bursa saham setelah aksi korporasi besar, sehingga memberikan keuntungan berlipat bagi investor awal. Hal ini bisa saja melanda saham DADA.
Baca Juga
IHSG Sesi I Berbalik Melemah 0,61%, Sebaliknya 6 Saham Dipimpin ACST Cetak ARA
Pengamat pasar modal Rendy Yefta mengatakan, dengan adanya partner strategis berskala global, nilai tambah jangka panjang bagi perseroan akan meningkat, sekaligus memperluas daya saing saham DADA. Fenomena lain yang kini juga menjadi sorotan yakni backdoor listing. Strategi ini kerap melahirkan lonjakan harga saham yang spektakuler, namun juga menyimpan risiko jika tidak dikawal analisis mendalam.
Sementara itu, PT Karya Permata Inovasi Indonesia selaku pengendali saham DADA terpantau agresif mengurangi kepemilikan saham. Karya Permata telah mengurangi kepemilikan saham DADA dari akhir Juli 2025 sebanyak 66,17% menjadi 65,96%. Penjualan bertujuan sebagai divestasi secara langsung.
Dari sisi kinerja keuangan, DADA membukukan peningkatan pendapatan menjadi Rp 5,39 miliar pada semester I-2025, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 3,81 miliar.Laba bersih tahun berjalan juga melesat dari Rp 71,65 juta menjadi Rp 219,67 juta.

