Volume Penjualan Emas Batangan Naik 76,86%, Hartadinata (HRTA) Optimistis Keuangan Melesat
Poin Penting
|
JAKARTA , investortrust.id – PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencatatkan penjualan emas batangan sebanyak 8,1 ton pada semester I-2025, naik 76,86% (yoy). Perseroan optimistis tren pertumbuhan ini sejalan dengan kenaikan harga emas yang berpotensi berlanjut hingga akhir 2025.
Hingga September 2025, harga emas dunia menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah di atas US$ 3.800 per troy ounce. Rata-rata harga emas bulan September mencapai US$ 3.663 per oz atau sekitar Rp 1,94 juta per gram. Secara tahunan, harga emas dalam Dolar AS naik 39,31% (yoy), sedangkan dalam Rupiah melonjak 51,69% (yoy) akibat pelemahan kurs. Secara bulanan, harga emas lokal naik 10,42% month to month (MoM).
Baca Juga
Hartadinata (HRTA) Siapkan Enam Strategi Utama untuk Perkuat Bisnis Emas
Kenaikan tajam harga emas dipicu oleh sejumlah faktor global. Kebijakan The Fed yang lebih dovish dengan penurunan suku bunga 25 bps, pelemahan Dolar AS di berbagai negara, serta tensi geopolitik dan perang dagang yang masih berlangsung mendorong investor global beralih ke emas sebagai aset lindung nilai.
Bank sentral dunia juga terus menambah cadangan emas dengan pembelian lebih dari 1.000 ton per tahun sejak 2022. Direktur Investor Relations HRTA, Thendra Crisnanda, menilai tren ini memberi peluang besar bagi investor dan konsumen. “Kebijakan moneter global, pelemahan mata uang, dan tingginya pembelian emas oleh bank sentral menjadi katalis utama,” ujarnya, Senin (6/10/2025).
Dari dalam negeri, Bank Indonesia turut memangkas suku bunga 25 bps menjadi 4,75% pada September 2025, memperkuat daya tarik emas sebagai aset investasi. Namun langkah tersebut juga menekan Rupiah yang sempat melemah hingga Rp 16.970 per USD dan rata-rata bergerak di Rp 16.500–16.600 per USD sepanjang bulan.
Baca Juga
Berkat Bullion Bank, Hartadinata (HRTA) Mampu Jual hingga 4,8 Ton Emas di Semester I 2025
Kondisi ini membuat permintaan emas domestik melonjak signifikan. Data World Gold Council mencatat permintaan emas di Indonesia pada paruh pertama 2025 tumbuh 20,87% (yoy) menjadi 21,2 ton, terutama dari emas batangan. “Di sisi domestik, pelemahan Rupiah memperkuat peran emas sebagai aset lindung nilai, sehingga momentum pertumbuhan masih kuat hingga akhir tahun,” tambah Thendra.
Untuk proyeksi ke depan, pasar menantikan pertemuan The Fed pada akhir Oktober atau awal November, yang berpotensi membuka ruang penurunan suku bunga lanjutan jika ekonomi AS masih melambat. Sementara Bank Indonesia juga akan menggelar rapat pertengahan Oktober untuk menjaga stabilitas Rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Jika kedua bank sentral melanjutkan kebijakan dovish, harga emas berpotensi kembali menguat.
Direktur Utama HRTA, Sandra Sunanto, menegaskan momentum kenaikan harga emas global menjadi pengingat bahwa emas merupakan aset paling tahan terhadap gejolak ekonomi. “Bagi kami di HRTA, emas tidak hanya instrumen lindung nilai, tetapi juga bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang keluarga Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga
Komitmen tersebut tercermin melalui inovasi produk HRTA Gold. Koleksi HRTA Gold Anabul bertema hewan peliharaan menghadirkan nilai emosional sekaligus investasi. Sementara kolaborasi Ardore × Yupi menawarkan perhiasan emas solid bergaya pop-culture yang menyasar generasi muda, memadukan estetika dan nilai aset.
Melalui langkah ini, HRTA menegaskan emas sebagai aset inklusif yang mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai pelindung nilai. “Lewat HRTA Gold, kami ingin emas hadir bukan sekadar simbol kemewahan, melainkan aset yang relevan dengan gaya hidup dan menjadi warisan bernilai bagi generasi berikutnya,” tambah Sandra.
Per 6 Oktober 2025 pukul 08.41 WIB, harga HRTA Gold tercatat Rp 2.217.000 per gram. Informasi harga terkini serta harga buyback diperbarui secara berkala melalui situs resmi emasku.co.id/price agar masyarakat dapat memperoleh referensi akurat dalam merencanakan investasi emasnya.

