Serius Ekspansi Bisnis Kesehatan, Astra International (ASII) Gelontorkan Investasi Rp 8,6 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – PT Astra International Tbk (ASII) terus memperkuat langkah ekspansi ke bisnis sektor kesehatan yang sudah berjalan sejak 2021. Hingga pertengahan September 2025, total investasi yang dikucurkan untuk bisnis ini telah mencapai Rp 8,6 triliun.
“Saat ini, total investasi kami di jasa kesehatan sudah sekitar Rp 8,6 triliun, mengikuti investasi di Halodoc, Rumah Sakit Hermina, hingga RS Jantung Heartology,” ujar Head of Corporate Investor Relations Astra International, Tira Ardianti, di Menara Astra, Selasa (23/9/2025).
Baca Juga
Menurut Tira, angka signifikan tersebut mencerminkan keseriusan Astra membangun ekosistem kesehatan. Sektor ini dipandang sebagai fokus baru perusahaan melalui investasi di telemedicine, jaringan rumah sakit, asuransi, hingga bisnis alat kesehatan.
Pada 2021, ASII memperluas portofolio kesehatan dengan menyuntikkan dana US$35 juta ke platform layanan digital Halodoc. Langkah ini berlanjut dengan pendanaan Seri D senilai US$100 juta, sehingga total investasi mencapai US$135 juta atau sekitar Rp 2,02 triliun.
ASII kemudian mengakuisisi Rumah Sakit Jantung Heartology lewat PT Astra Sehat Nusantara senilai Rp 645 miliar. Perusahaan juga masuk ke saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) dengan kepemilikan awal 7,23% dan kembali menambah saham awal bulan ini.
Baca Juga
Astra (ASII) Akuisisi Perkuat Portofolio Bisnis, Valuasi Saham makin Menarik?
Belum lama ini, kepemilikan Astra di HEAL meningkat menjadi 20%, menjadikan perusahaan sebagai pemegang saham terbesar jaringan RS Hermina. Posisi ini diraih setelah Astra memborong tambahan 9,58% saham HEAL di pasar dengan nilai transaksi lebih dari Rp 2,69 triliun.
“Kami akan terus mempelajari peluang untuk memperkuat sektor pelayanan kesehatan, termasuk menambah saham dari investasi yang sudah ada. Hal ini akan terus kami kaji,” lanjut Tira.
Manajemen menilai, portofolio kesehatan Astra menunjukkan optimisme terhadap prospek sektor ini. Awal Februari 2025, Astra juga menambah kepemilikan di Halodoc dari 21% menjadi sekitar 31%. “Kami melihat sektor layanan kesehatan memiliki potensi yang besar. Spending di Indonesia juga masih berpeluang tumbuh ke depan,” jelas Tira.
Baca Juga
Indonesia dan Uni Eropa Teken Kesepakatan Substantif IEU-CEPA, Ekspor Sawit bakal Melesat?
Langkah tersebut diharapkan mampu menghadirkan ekosistem kesehatan yang lebih luas, layanan lebih baik, dan biaya yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Dalam lima tahun ke depan, Astra berencana mengalokasikan capital expenditure (capex) hingga US$1 miliar untuk sektor kesehatan. Rencana ini diungkapkan Direktur Utama Astra International, Djonny Bunarto Tjondro, dalam Pubex Live 2025 secara virtual pada akhir Agustus 2025.

