BTC Tiba-tiba Anjlok Ke US$ 112.000, Michael Saylor Sebut Bitcoin “Jadi Membosankan” untuk Ritel
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Chairman MicroStrategy Michael Saylor menyebut, Bitcoin kini memasuki fase baru sebagai aset institusional yang bisa membuatnya ‘jadi membosankan’ bagi investor ritel.
Ia menjelaskan, penurunan volatilitas Bitcoin membuatnya semakin menarik bagi pemain institusional, namun justru mengurangi ‘sensasi adrenalin’ yang selama ini dicari investor ritel. Hal tersebut merupakan paradoks. Volatilitas rendah membuat Bitcoin lebih bisa diterima institusi, tapi menghilangkan daya tarik spekulatif bagi ritel.
Saylor menilai kondisi ini adalah fase alamiah dari siklus pertumbuhan Bitcoin, di mana aset digital itu bertransformasi menjadi bentuk modal yang lebih matang dan terprediksi.
Ia juga menyebut Bitcoin sebagai ‘digital capital’ yang terus mengungguli indeks S&P 500. Berdasarkan perhitungannya, S&P 500 bisa tertinggal hingga 29% per tahun dari Bitcoin dalam 20 tahun mendatang. Ia menekankan kekuatan fundamental Bitcoin terletak pada suplai yang tetap dan sifat desentralisasi, berbeda dengan mata uang fiat yang rentan inflasi dan kebijakan pemerintah.
Baca Juga
Powell Tekan Ekspektasi Pasar, Harga Bitcoin Turun ke US$ 114.000-an di Awal Pekan
Menurut Saylor, Bitcoin bisa menjadi basis prediktif untuk kredit dan investasi jangka panjang. Bahkan, orang-orang bisa membayangkan pinjaman berbasis Bitcoin dengan tenor lebih panjang dan imbal hasil yang lebih tinggi.
MicroStrategy sendiri sejak 2020 telah menempatkan Bitcoin sebagai pusat neraca perusahaan. Saat ini perusahaan memegang lebih dari 638.500 BTC, setara dengan puluhan miliar US dolar. Saylor juga mengungkapkan, pihaknya tengah bersiap memenuhi syarat untuk masuk ke dalam indeks S&P 500, seiring perubahan standar akuntansi nilai wajar dan pencapaian profitabilitas.
Meski harga Bitcoin tengah konsolidasi di kisaran US$ 115.760 setelah sempat menyentuh rekor US$ 124.000 pada 14 Agustus lalu, pandangan pasar masih terbelah. Co-Founder BitMEX Arthur Hayes memperkirakan harga bisa melesat ke US$ 250.000 sebelum akhir 2025. Namun, analis lain seperti Benjamin Cowen mengingatkan risiko koreksi hingga 70% dari level puncak siklus.
Baca Juga
Bitcoin Cetak Rekor 135 Hari di Atas US$ 100.000, Investor Kian Percaya
Terkoreksi
Harga Bitcoin kembali melemah tajam pada perdagangan Senin (22/9/2025) siang. Berdasarkan data CoinMarketCap, harga aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia itu turun 2,8% dalam sepekan terakhir, berada di level US$ 112.587 per BTC.
Penurunan ini turut menyeret kapitalisasi pasar Bitcoin menjadi US$ 2,24 triliun, terkoreksi 2,82%. Meski demikian, volume perdagangan harian justru melonjak lebih dari dua kali lipat, mencapai US$ 46,48 miliar atau naik 106,1% dalam 24 jam terakhir.
Saat ini, total suplai Bitcoin yang beredar mencapai 19,92 juta BTC dari maksimal suplai 21 juta BTC. Adapun rasio volume terhadap market cap tercatat 2,04%.
Secara teknikal, grafik pergerakan harga dalam tujuh hari terakhir menunjukkan Bitcoin sempat menyentuh area US$ 118.000 pada 18 September 2025. Namun sejak akhir pekan lalu, tren koreksi semakin dalam hingga jatuh ke bawah US$ 112.000 pada hari ini.

