Harga Bitcoin Naik Lagi, Michael Saylor Sebut BTC Lebih Menarik Dibanding Magnificent 7
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pasar kripto kembali menunjukkan penguatan signifikan dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) menguat dan sejumlah analis memproyeksikan potensi kenaikan hingga menembus US$ 120 ribu. Dorongan utama berasal dari aliran dana besar ke spot ETF Bitcoin serta meningkatnya peran Bitcoin sebagai instrumen lindung nilai (hedge) terhadap gejolak keuangan global.
Sejak Jumat pekan lalu, BTC bergerak relatif stabil di kisaran US$ 116.890 per koin dengan volatilitas sempit 2,3%. Namun, tren penarikan aset dari bursa kripto mulai menekan likuiditas pasar. Data Glassnode mencatat sepanjang September terjadi penarikan bersih lebih dari 44 ribu BTC, membalikkan tren setoran tinggi pada Juli. Kondisi ini dinilai memperkecil potensi aksi jual di pasar spot.
Menilik data Coinmarketcap, Rabu (17/9/2025) harga BTC kembali menguat dan pagi ini tercatat di US$ 116.855 per koin. Kenaikan ini menandai penguatan 4,76% dalam sepekan terakhir, sekaligus membawa kapitalisasi pasar aset kripto terbesar tersebut ke angka US$ 2,32 triliun atau naik 1,28%. Data menunjukkan volume perdagangan harian Bitcoin mencapai US$ 45,73 miliar, meskipun turun 13,32% dibanding hari sebelumnya.
Saat ini, jumlah Bitcoin beredar mencapai 19,92 juta BTC, mendekati batas maksimal suplai yang ditetapkan sebesar 21 juta BTC. Pergerakan harga Bitcoin dalam sepekan terakhir terpantau stabil dengan tren menguat, sempat menyentuh titik terendah di kisaran US$ 111.530, lalu berangsur naik hingga menembus US$ 116.850 pada perdagangan hari ini. Dengan rasio volume terhadap kapitalisasi pasar sebesar 1,92%, Bitcoin masih menunjukkan dominasi kuat sebagai aset digital nomor satu di dunia.
Baca Juga
COINX Bergabung, Pedagang Aset Kripto Bertambah Lagi Kini Jumlahnya Ada 23
Melansir Cointelegraph, Rabu (17/9/2025) optimisme juga ditopang oleh derasnya aliran dana masuk ke ETF Bitcoin yang terdaftar di AS. Dalam periode Rabu–Senin, tercatat inflow bersih mencapai US$ 2,2 miliar, setara tekanan beli harian lebih dari 10 kali jumlah Bitcoin yang ditambang setiap hari. Dukungan ETF ini menjadi faktor penting dalam memulihkan kepercayaan investor, terutama setelah emas mencatat kinerja lebih unggul 11% sejak Agustus.
Keputusan Federal Reserve (The Fed) terkait pemangkasan suku bunga menjadi perhatian pasar. Probabilitas pemotongan 25 basis poin dari 4,5% menjadi 4,25% diperkirakan mencapai 96%. Namun, arah kebijakan jangka panjang akan lebih banyak ditentukan oleh pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell. Sementara itu, sinyal ketatnya likuiditas AS terlihat dari meningkatnya permintaan bank terhadap fasilitas repo The Fed senilai US$ 1,5 miliar dan lonjakan suku bunga pinjaman semalam ke level 4,42%, tertinggi dalam dua bulan terakhir.
Di tengah ketidakpastian, sejumlah tokoh tetap optimis terhadap peran Bitcoin. Eric Trump, putra Presiden AS Donald Trump, menyebut BTC sebagai “aset terbesar di era ini” sekaligus emas modern yang berfungsi sebagai lindung nilai terhadap pelemahan sektor properti.
Sementara itu, melansir Coinmarketcap, pendiri MicroStrategy Michael Saylor kembali menegaskan klaim bahwa Bitcoin mengungguli kinerja saham perusahaan teknologi besar AS atau “Magnificent 7”. Berdasarkan rasio Open Interest terhadap kapitalisasi pasar, posisi Bitcoin jauh di atas raksasa teknologi seperti Apple, Microsoft, dan Amazon. MicroStrategy bahkan terus memperbesar kepemilikan BTC dengan pembelian terbaru senilai US$ 217 juta pada 8 September 2025.
Dengan kombinasi dukungan ETF, meningkatnya adopsi korporasi, dan perannya sebagai aset lindung nilai, Bitcoin dinilai masih memiliki peluang reli lebih lanjut. Namun, keputusan The Fed dan dinamika pasar global tetap menjadi variabel kunci dalam menentukan arah pergerakan harga menuju target US$ 120 ribu.
Argumen ini membuka peluang baru bagi proyek-proyek yang berfokus pada peningkatan kemampuan Bitcoin, seperti Bitcoin Hyper (HYPER).
Baca Juga
Catat! Inilah 4 Kripto yang Layak Dipantau di Minggu Ketiga September 2025
Saylor berargumen berdasarkan rasio Minat Terbuka terhadap Kapitalisasi Pasar perusahaannya, Strategy. Minat Terbuka adalah indikator yang menunjukkan jumlah total kontrak terbuka (posisi beli atau jual) untuk suatu aset, sementara Kapitalisasi Pasar adalah nilai total aset tersebut di pasaran. Menariknya, rasio Strategy terhadap Bitcoin saat ini lebih dari 100%.
Sebagai perbandingan, rasio perusahaan teknologi raksasa yang dikenal sebagai Magnificent 7 yang diantaranya berisikan Apple, Microsoft, dan Amazon, hanya berkisar antara 3,4% hingga 8,5%. Hanya Tesla yang mendekati angka tersebut dengan 26%. Hal ini menunjukkan betapa besarnya keyakinan investor terhadap Strategy yang kini menjadi pemegang Bitcoin korporat terbesar di dunia dan juga Bitcoin itu sendiri. Strategy bahkan terus menambah kepemilikan Bitcoinnya, dengan pembelian terbaru senilai US$ 217 juta pada 8 September lalu.

