Didukung Sejumlah Faktor Ini, Kinerja Keuangan dan Harga Saham Timah (TINS) Bisa Melonjak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Timah Tbk (TINS) memiliki prospek cerah pasca pergantian manajemen yang ditunjukkan pemulihan produksi, potensi lonjakan harga timah global, serta tambahan aset strategis PT Refined Bangka Tin (RBT).
Hal ini mendorong Analis Samuel Sekuritas Andreas Yordan Tarigan mempertahankan rekomendasi beli saham TINS dengan target harga Rp 1.740 per saham, sehingga terbuka peluang kenaikan lebih dari 57% ke depan. Target tersebut juga mempertimbangkan valuasi saham, yakni diperdagangkan di PER 4,1x untuk target 2026 dan PER masih berada di 7,0 kali.
Baca Juga
Ingin Perbaiki Tata Kelola Tambang Timah, Pemerintah Komitmen Perkuat Peran TINS
Terkait produksi, Andreas mengatakan, produksi TINS menunjukkan tanda perbaikan, seiring pengangkatan Restu Widyantoro sebagai CEO baru. Pada kuartal II-2025, output naik 17% secara kuartalan (qoq) hampir mencapai 1.700 ton pada Juli 2025 atau pemanfaatan penuh kuota RKAB. Sedangkan target CAGR produksi perseroan mencapai 7% untuk 2024-2026.
Sumber: Sucor Sekuritas
“Momentum ini diperkirakan berlanjut ke lonjakan laba dengan proyeksi laba semester II-2025 bisa melesat 230% menjadi Rp1 triliun, dibandingkan raihan semester I. Dengan smelter yang baru beroperasi sekitar 30% kapasitas, TINS dinilai masih memiliki potensi signifikan yang belum tergarap,” tulis riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin.
Sedangkan dari sisi harga komoditas, dia mengatakan, harga timah telah menguat ke level tertinggi sejak 2020. Kondisi ini sering memicu short squeeze dengan reli harga timah 10–140%. Harga logam timah dipandang menawarkan peluang kenaikan menarik yang bisa mendukung kinerja TINS.
Pertumbuhan kinerja keuangan perseroan, terang dia, juga didukung peluang diperolehnya hak pemanfaatan atas aset PT RBT yang kini masih dalam pengawasan Kejaksaan Agung. Aset ini diestimasi bernilai Rp 30 triliun atau lebih dari dua kali aset TINS saat ini. “Jika TINS mendapatkan akses atau hak pengelolaan atas aset tersebut, neraca perseroan akan mengalami penguatan, menjamin pasokan bahan baku jangka panjang, sekaligus membuka peluang ekspansi margin dalam tiga tahun mendatang,” terangnya.
Baca Juga
Sejumlah faktor tersebut berpotensi menciptakan CAGR laba TINS mencapai 25% pada 2024–2026. Pertumbuhan ini dinilai bisa mengantisipasi kenaikan royalti, sehingga menopang profitabilitas berkelanjutan. Adapun laba bersih perseroan tahun depan diprediksi mencapai Rp 1,9 triliun didukung efisiensi operasional dan leverage dari kenaikan output.
Sentimen lain yang bisa menopang kenaikan harga saham TINS, yaitu posisi strategis perseroan sebagai pemegang konsesi tambang timah terbesar di Indonesia bersamaan dengan kecenderungan permintaan global dan didukung faktor operasional dan regulasi melalui pengurangan aktivitas penambangan ilegal bersamaan dengan efisiensi biaya peleburan dengan teknologi TSL Ausmelt.

