Laju Penguatan Saham Timah (TINS) Tak Terbendung Didukung Sejumlah Faktor, Harga Bisa ke Level Ini
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Timah Tbk (TINS) menunjukkan pergerakan mengesankan dalam sebulan terakhir, bahkan mencapai 18,41%. Sedangkan penguatan sepanjang 2024 berjalan atau year to date (ytd) telah mencapai 80,30%.
Penguatan harga saham TINS jauh mengalahkan kenaikan harga saham emiten komoditas tambang lainnya yang justru masih dilanda penurunan harga saham. Meski telah menguat pesat sepanjang ytd, ternyata harga saham TINS belum mencapai level penutupan tertingginya dalam lima tahun terakhir yang sempat menyentuh angka Rp 2.390 pada 15 Februari 2021.
Baca Juga
Timah (TINS) Kucurkan Dana Eksplorasi Rp 37 Miliar Periode Agustus 2024
Sedangkan pada penutupan perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) Jumat (4/10/2024), saham TINS ditutup melesat 1,71% ke level tertinggi Rp 1.190 dalam setahun terakhir.
Lalu, apakah tren penguatan harga saham Timah (TINS) bakal berlanjut? Analis Sinarmas Sekuritas Kenny Shan dan Inav Haria Chandra dalam riset yang diterbitkan pekan lalu menyebutkan bahwa tren penguatan harga saham TINS diprediksi berlanjut, sehingga saham ini direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.800.
“Timah merupakan perusahaan pertambangan timah integrasi terbesar di dunia. Perseroan mengontrol sebanyak 90% dari konsesi pertambangan timah di Bangka Belitung. Meski demikian, perseroan hanya berkontribusi sekitar 30-40% dari total ekspor timah Indonesia dan sisanya masih didominasi perusahaan swasta yang memiliki konsesi kecil. Hal ini menandai adanya kebocoran bahan baku timah yang dikuasai perseroan,” terangnya.
Namun demikian, Sinarmas Sekuritas menyebutkan, sejak tahun 2024, Timah menandai perubahan penting setelah pemerintah menerapkan pengawasan peraturan lebih ketat dengan mewajibkan RKAB berjangka waktu tiga tahun bagi penambang dan pengenalan SIMBARA untuk bisa menelusuri bijih timah yang diekspor.
Baca Juga
Tekan Beban Bunga, Timah (TINS) Lunasi Surat Utang Rp 806 Miliar lewat Pinjaman dari BCA
“Kami menilai dua kebijakan tersebut akan membuat posisi Timah kembali teratas dalam ekspor timah dunia ke depan dan tentu dapat meningkatkan posisi pasarnya ke depan, sehingga berimbas positif terhadap perseroan,” terangnya.
Selain perubahan tata kelola komoditas timah, Sinarmas Sekuritas menyebutkan, suplai produk ini diprediksi deficit sepanjang 2024-2025 akibat ketidakseimbangan pasokan dan permintaan. Permintaan timah global terpantau terus mengalami peningkatan ditopang pemulihan penjualan elektronik. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan pengiriman semikonduktor global sebesar 17% hingga Agustus 2024.
Peluang kenaikan harga timah semakin berpeluang didukung keterbatasan produksi timah dari dalam negeri setelah adanya perubahan besar-besaran produksi timah akibat kasus yang menjerat Timah. Peningkatan harga timah bakal terdorong atas penangguhan operasi tambang timah di Vietnam yang selama ini bertindak sebagai pemasok utama timah bagi China.
Berbagai factor tersebut diharapkan berimbas positif terhadap kinerja keuangan Timah (TINS) dengan target laba bersih melesat menjadi Rp 1,17 triliun tahun 2024 dan diharapkan terus meningkat menjadi Rp 1,22 triliun pada 2025. Target harga ini mempertimbangkan proyeksi kenaikan penjualan refined tin sebanyak 18.015 ton tahun 2024 dan menjadi 20,033 ton pada 2025. Sedangkan rata-rata harga jual timah tahun ini diharapkan meningkat menjadi US$ 30.804 per ton dan menjadi US$ 31.624 per ton pada 2025.
Grafik Saham TINS

