Tak Hanya Purbaya, Sosok Anak Eks Menkeu Ini Juga Aktif di Kripto
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Tren investasi aset kripto kian meluas dan telah merambah keluarga pejabat tinggi negara di Indonesia. Informasi yang dihimpun menyebutkan, anak Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yakni Yudo Achilles Sadewa diketahui aktif melakukan trading di salah satu instrumen investasi tersebut.
Fenomena ini menambah sorotan publik, setelah sebelumnya Adri Martowardojo putra sulung dari mantan Menkeu sekaligus eks gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo aktif mengembangkan ekosistem kripto di Tanah Air. Adri tercatat saat ini menjabat sebagai Direktur Marketing & Business Development di PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN).
COIN merupakan perusahaan holding yang menaungi dua anak usaha, yaitu PT Central Finansial X (CFX) selaku Bursa Aset Kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia dan PT Kustodian Koin Indonesia (Indonesia Coin Custodian/ICC) selaku lembaga penyimpanan aset kripto.
Adri menuturkan, kripto perkembangannya sangat positif ke depannya. Apalagi dilihat dari segi jumlah investor yang kian meningkat, nilai transaksi yang terus tumbuh dan banyak use case yang dapat dikembangkan ke depannya. Sejak Januari hingga Juli 2025, nilai transaksi kripto Indonesia menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mencapai Rp 276,45 triliun dengan 16,5 juta konsumen.
“Jadi saya pastinya mendukung industi kripto di Indonesia dan kami ingin lebih ada proteksi untuk konsumen,” ujarnya kepada Investortrust.id, di Bali, belum lama ini.
Baca Juga
OJK Beri Izin Usaha ke Cyrameta Exchange Indonesia, Ini 22 Daftar Pedagang Aset Kripto Terbaru
Ia pun berharap masyarakat Indonesia bisa lebih aware terhadap kripto Menurutnya, penting bagi masyarakat Indonesia untuk lebih aware terhadap perkembangan kripto sekaligus memahami risikonya. Adri juga menekankan agar masyarakat Indonesia tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga meningkatkan pemahaman sebelum berinvestasi di aset kripto.
“Harapannya orang bisa lebih aware (terhadap kripto). Kalau ayah saya masih belajar kripto,” ujar pria kelahiran 27 April 1986 tersebut.
Secara terpisah, Yudo Achilles Sadewa, putra Menkeu Purbaya ternyata sudah menjadi trader kripto sejak usia 16 tahun. “Modal awal Rp 500.000 sisa uang jajan, cuma lihat internet yang sediakan layanan investasi, digunakan pertama kali dalam trading binary option lalu saya investasikan di Shiba Inu (meme coin yang harganya dibawah Rp 1),” ujar Yudo mengutip Suara Merdeka, Minggu 16 Januari 2022.
Yudo sangat penasaran, kenapa keuntungan banyak orang kaya di trading, meski awal-awal dirinya sempat khawatir investasi di kripto ia anggap sangat berisiko.
Ia mengatakan, sebulan ikut trading loss, dana awal tersisa tinggal Rp 50.000. Sesuai arti nama tengahnya Achilles yakni Dewa Perang-Yudo tidak patah arang bangkit dan berjuang begitu kira-kira.
"Bahkan saya pernah loss Rp 156 juta itu mata uang Dogecoin, saya waktu itu ikut-ikutan (FOMO, red) Twitter itu banyak yang nge-tweet misalnya Elon Musk dan harganya naik, jadi dalam trading hal yang harus dihindari ya FOMO itu," kata Yudo.
Baca Juga
Disalip Pakistan! Adopsi Kripto Indonesia Melorot, Dulu di 3 Besar Kini Ada di Peringkat 7 Dunia
Yudo melanjutkan kisah fenomenalnya, dirinya kaget suatu ketika modalnya menjadi Rp 10 juta lalu dibelikan Shiba Inu di akhir 2019. "Terkaget-kaget karena Shiba Inu dalam 3 bulan terakhir 2021 melonjak hingga Rp 400 juta, lalu saya jual ke USD Tether,” katanya.
Dalam beberapa tahun berikutnya, pria kelahiran 2006 ini berhasil meraih keuntungan berlipat ganda, bahkan dilaporkan mengantongi cuan hingga Rp 13 miliar pada 2024. Keterlibatan Yudo di dunia kripto semakin menonjol. Ia kerap membagikan analisis dan strategi trading melalui akun media sosialnya, termasuk Instagram @yudo4dewa, yang membuat perjalanan karirnya terus menjadi sorotan publik.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan menegaskan bahwa investasi yang dilakukan anggota keluarga adalah ranah pribadi dan tidak terkait dengan kebijakan negara. Langkah tersebut mencerminkan semakin luasnya penerimaan kripto di kalangan masyarakat Indonesia, termasuk dari kelompok yang dekat dengan pusat kebijakan fiskal. Namun, mereka tetap mengingatkan pentingnya aspek regulasi dan mitigasi risiko, mengingat fluktuasi harga kripto yang tinggi.

