Disalip Pakistan! Adopsi Kripto Indonesia Melorot, Dulu di 3 Besar Kini Ada di Peringkat 7 Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pada 2025, posisi Indonesia dalam Global Crypto Adoption Index mengalami penurunan signifikan. Jika pada edisi sebelumnya Indonesia menempati peringkat 3 besar dunia, tahun ini Indonesia turun menjadi peringkat ke-7.
Penurunan ini menunjukkan bahwa meski adopsi kripto di Indonesia tetap kuat, negara lain seperti India, Nigeria, dan Vietnam mampu memperkuat posisinya lebih baik dalam hal penggunaan kripto ritel maupun institusional.
Selain itu, faktor regulasi, penetrasi layanan keuangan berbasis kripto, serta tingkat pemanfaatan di kalangan masyarakat menjadi penentu utama pergeseran peringkat tersebut.
Baca Juga
Penasihat Danantara Ray Dalio Sebut Kripto Makin Terlihat Menarik, Jikalau....
Pada tahun 2025, Asia Pasifik (APAC) memperkuat statusnya sebagai pusat global aktivitas kripto akar rumput, dipimpin oleh India, Pakistan, dan Vietnam, yang populasinya mendorong adopsi yang meluas di seluruh layanan terpusat maupun terdesentralisasi. Pada saat yang sama, Amerika Utara naik ke posisi regional tertinggi kedua berkat momentum regulasi, termasuk persetujuan ETF Bitcoin spot dan kerangka kerja kelembagaan yang lebih jelas, yang membantu melegitimasi dan mempercepat partisipasi kripto di seluruh kanal keuangan tradisional.
Dalam 12 bulan yang berakhir pada Juni 2025, Asia Pasifik muncul sebagai kawasan dengan pertumbuhan tercepat untuk aktivitas kripto on chain, dengan peningkatan nilai yang diterima sebesar 69% dari tahun ke tahun. Total volume transaksi kripto di kawasan tersebut tumbuh dari US$ 1,4 triliun menjadi US$ 2,36 triliun, didorong oleh keterlibatan yang kuat di pasar-pasar utama seperti India, Vietnam, dan Pakistan.
Sementara itu, adopsi kripto di Amerika Latin tumbuh sebesar 63%, mencerminkan peningkatan adopsi di segmen ritel dan institusional. Sebagai perbandingan, adopsi di Afrika Sub-Sahara tumbuh sebesar 52%, menunjukkan ketergantungan kawasan tersebut yang berkelanjutan pada kripto untuk pengiriman uang dan pembayaran sehari-hari. Angka-angka ini menggarisbawahi pergeseran luas dalam momentum kripto ke arah Selatan Global, di mana utilitas di lapangan semakin mendorong adopsi.
Pengamat kripto Vinsensius Sitepu mengatakan, peringkat adopsi kripto Indonesia tahun ini turun lumayan jauh. Tahun lalu Indonesia ada di posisi tiga besar dunia, sekarang geser ke nomor tujuh. Penyebab utamanya, menurut ia karena Chainalysis mengubah cara mengukur indeksnya.
"Kalau dulu ada komponen transaksi ritel di DeFi, Indonesia tuh unggul banget di situ. Sekarang komponen itu dihapus, diganti sama indikator transaksi institusional di atas US$ 1 juta. Otomatis negara kayak Amerika Serikat yang punya pasar ETF dan institusi kuat jadi diuntungkan. Indonesia malah jadi kelihatan lemah, padahal dari sisi ritel kita masih sangat kuat," ujarnya kepada Investortrust, Kamis (4/9/2025).
Data Chainalysis 2024 menunjukkan sekitar 43,6% volume trading kripto di Indonesia berasal dari DeFi, angka yang menunjukkan bahwa jutaan pengguna ritel aktif menggunakan layanan ini.
"Nah, di sini justru muncul pertanyaan soal fairness. Menghilangkan kriteria DeFi itu terasa tidak adil, soalnya DeFi sudah jadi pintu masuk utama jutaan pengguna ritel di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kalau aspek itu dianggap tidak relevan, maka adopsi yang berbasis komunitas luas yang justru mencerminkan semangat desentralisasi kripto justru tidak kelihatan nilainya," katanya.
Padahal fakta di lapangan jelas bahwa pengguna ritel di Indonesia luar biasa banyak, transaksi di bursa lokal pun tinggi. Turunnya peringkat lebih mencerminkan perubahan kriteria, bukan penurunan minat atau partisipasi masyarakat.
Baca Juga
Adapun untuk balik naik peringkat, maka menurutnya perlu dilakukan dua hal. Pertama, mendorong kenaikan jumlah investor di sektor institusional. "Perusahaan besar, badan hukum, atau lembaga investasi perlu diedukasi buat buka akun di exchange lokal. Mereka punya kapital kuat, bisa menciptakan volume transaksi jumbo yang sesuai indikator institusional," ujarnya.
Kedua, Indonesia harus mempercepat peluncuran produk ETF kripto di Bursa Efek Indonesia. Pasalnya, kalau produk ini ada, investor institusional bakal punya jalur resmi dan aman buat masuk. Contohnya di Amerika Serikat, kehadiran Bitcoin Spot ETF mampu membuat partisipasi institusi melonjak tajam.
Vinsensius menambahkan, Indonesia sudah sangat solid di ritel dan DeFi, tapi nilai itu sayangnya dihapus dari perhitungan. "Kalau ke depan kita bisa mengimbangi kekuatan ritel dengan basis institusional yang lebih kokoh, plus dorongan regulasi dan produk investasi baru, Indonesia bisa balik lagi jadi pemimpin adopsi kripto global," tegasnya.
Untuk informasi, Crypto Adoption Index adalah salah satu sub-indeks yang digunakan Chainalysis untuk mengukur berapa besar nilai aset kripto yang masuk (value received) ke protokol-protokol Decentralized Finance (DeFi), dan dari mana asal geografis transaksinya. Data ini menunjukkan seberapa aktif sebuah negara menggunakan layanan DeFi dibandingkan negara lain. Jadi bukan cuma jumlah pengguna, tapi juga volume transaksi yang benar-benar mengalir ke smart contract DeFi.

