Tanda Rebound Belum Tampak, Saham Big Cap Didominasi Bank masih Tekan IHSG
JAKARTA, investortrust.id – Penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (9/9/2025), masih berlanjut. Hingga pukul 10.45 WIB, penurunan mencapai 72 poin (0,93%) menjadi 7.695. Penyumbang utama penurunan datang dari saham keuangan, khususnya bank papan atas.
Berdasarkan data BEI, saham sektor keuangan melemah 1,27%, sektor infrastruktur 1,29%, sektor konsumer non primer 0,89%, sektor energi 0,21%, sektor teknologi 0,65%, dan sektor properti 0,28%. Sebaliknya penguatan tipis melanda saham sektor transportasi, industri, dan material dasar.
Baca Juga
Soal 17+8 Tuntutan Rakyat, Menkeu Purbaya: Itu Suara Sebagian Kecil Masyarakat
Sedangkan sahamd engan penekan utama adalah berlanjutnya kejatuhan saham BBCA sebanyak 1,62% menjadi Rp 7.575 atau level terendah sejak Juli 2022. Saham BBRI jatuh 2,31% menjadi Rp 3.820, BMRI melemah 2% menjadi Rp 4.400, dan BBNI anjlok 2,39% menjadi Rp 4.080. Begitu juga saham big cap, seperti BREN anjlok 2,33% menjadi Rp 8.375, TPIA turun 2,81% menjadi Rp 7.775, DSSA melemah 2,28% menjadi Rp 108.325, dan AMMN melemah 2,78% menjadi Rp 7.875.
Sebaliknya saham yang berkaitan dengan tambang emas mencatatkan penguatan mengesankan hari ini sejalan dengan kenaikan harga emas dunia, seperti ANTM naik 4,43% menjadi Rp 3.780, ARCI naik 4,49% menjadi Rp 930, PSAB naik 1,71% menjadi Rp 595, BRMS naik tipis 1,98% menjadi Rp 515, dan UNTR menguat 3,50% menjadi Rp 27.375.
Kemarin, IHSG ditutup anjlok sebanyak 100,5 poin (1,28%) menjadi 7.766,85. Penurunan terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle kabinet, salah satunya Sri Mulyani Indrawati diganti dari posisinya sebagai menteri keungan oleh Purbaya Yudhi Sadewa. Presiden juga mengganti posisi Menteri Koperasi dan Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI)/Kepala BP2MI.
Baca Juga
Pasar Asia Mayoritas Menguat, Nikkei 225 Jepang Tembus 44.000
Pemodal asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 525,95 miliar dengan penyumbang utama BBCA Rp 1,24 triliun, BMRI Rp 347,21 miliar, dan ADRO Rp 121,79 miliar. Penurunan dipicu atas kejatuhan saham sektor konsumer primer 2,48%, sektor keuangan 2,30%, dan infrastruktur 2,07%.
Di tengah pelemahan tersebut, sejumlah saham berikut torehkan kenaikan hingga auto reject atas (ARA), yaitu LION naik 25% menjadi Rp 440, TALF naik 25% menjadi Rp 430, FITT naik 25% menjadi Rp 460, CBRE melesat 24,86% menjadi Rp 452, dan POLU naik 20% menjadi Rp 10.350.

