Sejumlah Saham Ini Diprediksi Prospektif di Semester II-2025, Meski Outflow Dana Asing Membayangi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Strategi pasar menegaskan pandangan bahwa pertumbuhan laba emiten pada paruh kedua 2025 tetap solid, meski tekanan dari arus keluar asing dan risiko nilai tukar rupiah masih menjadi tantangan utama. Sejumlah saham pilihan, yaitu saham TLKM, BBCA, BRMS, dan ANTM.
Data menunjukkan pada 1 September 2025 terjadi arus keluar dana asing senilai US$ 131 juta dari pasar saham dengan penyumbang utama saham perbankan (BBCA, BMRI, BBRI) dan telekomunikasi (TLKM). Hal ini menjadikan BBCA dan BMRI membukukan rekor tertinggi year-to-date foreign outflow masing-masing US$ 1,2 miliar dan US$ 776 juta. Secara total, sepanjang 2025 dana asing telah keluar dari pasar saham mencapai US$ 3,2 miliar.
Baca Juga
Volatilitas Politik Meningkat, Saham Emiten Emas Ini Layak Dilirik
Meski begitu, valuasi diyakini tetap menjadi penopang, dengan indeks LQ45 saat ini diperdagangkan di 10,5x PE (-2,3SD dari rata-rata 10 tahun) dan bank di 2,0x PBV (-0,5SD). “Selama tidak terjadi eskalasi lanjutan dari aksi unjuk rasa, kinerja laba emiten pada paruh kedua 2025 diproyeksikan tetap solid ditopang percepatan belanja pemerintah serta perbaikan likuiditas pasar,” tulis riset yang diterbitkan di Jakarta, Selasa (9/2/2025).
Sepanjang Agustus 2025, dana domestik menambah bobot investasi di sektor petrokimia (+50bps, terutama TPIA), otomotif (+45bps di ASII), properti (+44bps), dan logam (+29bps, terutama AMMN). Bobot juga meningkat pada saham sektor perbankan +25bps setelah sempat berkurang pada Juli 2025.
Sementara itu, alokasi berkurang di sektor kesehatan (-36bps), konsumer (-34bps), dan farmasi (-25bps) akibat lemahnya kinerja kuartal II-2025 dan terbatasnya daya beli. Secara keseluruhan, dana domestik masih kelebihan bobot (OW) pada bank (+630bps), konsumer (+265bps), dan otomotif (+195bps).
Baca Juga
Didukung Efisiensi Opex dan Dana Murah, Saham BCA (BBCA) bisa Kasih Cuan hingga 40%
Sedangkan saham pilihan masih condong pada emiten sektor telekomunikasi dengan pilihan TLKM target harga Rp 3.500 dan perbankan pilihan BBCA dengan target harga Rp 11.900 untuk jangka pendek. Meski demikian, saham logam juga bisa menjadi hedge, jika katalis domestik, seperti belanja pemerintah dan perbaikan likuiditas, belum optimal.
“Investasi pada emas meningkat dipicu kecenderungan pasar mencari lindung nilai pada aset safe haven,” dinilai menjadi penopang tambahan untuk logam. Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas menegaskan pilihan utama di sektor ini, seperti saham BRMS dengan target harga Rp 480 dan INCO dengan target harga Rp 4.700. Sementara kinerja kuat ANTM pada 2Q25 juga berpotensi menarik kembali aliran dana.

