IHSG Sempat Anjlok 3,6%, Dirut BEI: Akibat Persepsi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah sekitar 2,6% pada level 7.620,1, Senin (1/9/2025). Sejak perdagangan sesi I baru berjalan, indeks bahkan sempat menyentuh level terendahnya di 7.547,56 atau anjlok 3,6%.
Menurut Direktur Utama BEI Iman Rachman, pergerakan indeks pagi ini lebih dipengaruhi persepsi pelaku pasar. Dalam arti, tidak mencerminkan kondisi fundamental perusahaan-perusahaan tercatat, maupun kondisi ekonomi domestik secara keseluruhan.
Dia menjelaskan, kondisi saham dan pergerakan IHSG sejatinya didorong oleh dua hal, yakni fundamental perusahaan atau ekonomi dan persepsi pelaku pasar.
“Fundamentalnya berubah nggak? MSCI kita malah tambah emiten nggak? Fundamentalnya bagus dan kelihatan yang terjadi memang persepsi investor asing, dan kelihatan kan kondisinya membaik,” tanya Iman sambil meyakini wartawan, usai Konferensi Pers Stabilitas Pasar Modal Indonesia bersama Menko Perekonomian di Gedung BEI, Senin (1/9/2025).
IHSG memang telah diproyeksi melemah dalam sepekan ke depan. Analis menyebutkan, pelaku pasar fokus pada sentimen kunci yakni aksi protes dan gejolak pasar.
Baca Juga
OJK : Stabilitas Pasar Modal Butuh Rasionalitas Investor, Bukan Rumor
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menjelaskan, pelaku pasar akan fokus pada dinamika demo dan pernyataan otoritas. Termasuk langkah Bank Indonesia dan BEI atau OJK, agar tidak menyebabkan kepanikan di pasar keuangan.
Dalam konferensi pers pagi ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto mengakui, dinamika sosial dan politik yang terjadi akhir pekan lalu, menimbulkan ketidakpastian.
“Saya memahami jika terdapat kekhawatiran serta ketidakpastian yang saat ini dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Baca Juga
IHSG Dibuka Sempat Anjlok 3,6% ke 7.547, Sebaliknya Saham TMPO dan PGUN Melesat
Namun Airlangga menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 tercatat sebesar 5,12% (yoy) dengan pertumbuhan sepanjang semester I 2025 sebesar 4,99%.
Indikator-indikator utama, seperti PMI Manufaktur juga menunjukkan perbaikan ke angka 51,5 didorong ekspansi output dan permintaan baru. Sedangkan IHSG melalui momentum penguatan pekan lalu, bahkan sempat menyentuh all time high.
“Penurunan hanya terjadi saat demo besar hari Jumat. Untuk itu pemerintah yakin optimisme ini masih ada di tengah-tengah kita dan harus kita jaga,” pungkasnya.

