IHSG Sempat Anjlok Lebih dari 2,2%, BEI Sebut Fundamental masih Kuat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id –Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (29/8/2025) yang sempat anjlok lebih dari 2,2% hingga terlempat ke bawah 7.800. Dibandingkan dengan rentang pergerakan kemarin yang sempat sentuh level tertinggi baru sepanjang masa (all time high/ATH) bernilai 8.022.
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menegaskan, pelemahan IHSG saat ini lebih bersifat teknikal, bukan mencerminkan kondisi fundamental pasar.
Baca Juga
IHSG Terkapar 2% ke Bawah 7.800, Gejolak Politik dan Demo Jadi Sentimen Negatif
“Kalau dari bursa kami melihat fundamental pasar kita itu kuat, itu aja. Kemudian kalau naik turunnya indeks, karena kemarin indeks kita kan sudah mencapai level tertinggi. Artinya, kalaupun ada koreksi yang bersifat teknikal, itu wajar,” ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Jumat, (29/8/2025).
Ia menegaskan fundamental pasar Indonesia masih solid, sehingga pelemahan IHSG dinilai hanya bersifat teknikal. Ia juga menekankan pentingnya investor mengambil keputusan secara rasional di tengah fluktuasi indeks.
“Yang penting sekali lagi fundamental kita, kita yakin ini masih sangat kuat, tetapi sama seperti pesan-pesan kita yang selalu kita ulang-ulang itu, investor mengambil keputusan secara rasional. Itu aja kalau terkait indeks,” katanya.
Baca Juga
Ia juga mengatakan, otoritas bursa tidak akan melakukan penyesuaian kebijakan meskipun IHSG terkoreksi cukup tajam. “Semua masih on track, masih on track semua,” tegas Jeffrey.
Sebelumnya, Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai pelemahan IHSG dipicu meningkatnya kekhawatiran investor.
“Penyebab utama tekanan ini bukan hanya faktor global, tetapi lebih pada kondisi domestik. Aksi massa yang merebak di Jakarta dan sejumlah daerah menjadi sentimen negatif karena meningkatkan ketidakpastian politik,” jelas Hendra kepada investortrust.id, Jumat (28/8/2025).
Baca Juga
Menurutnya, pasar modal sangat sensitif terhadap isu stabilitas. Begitu muncul potensi risiko keamanan, investor asing maupun domestik cenderung menahan diri, bahkan melepas portofolio untuk mengamankan posisi likuid. “Gejolak sosial ini diperparah oleh respons pemerintah yang dinilai belum tepat. Alih-alih menjalin komunikasi terbuka dengan masyarakat, langkah yang muncul justru berupa himbauan work from home (WFH) bagi anggota DPR,” jelas dia.
Kebijakan ini menimbulkan persepsi bahwa pemerintah dan wakil rakyat lebih memilih menjauh ketimbang mendengar aspirasi langsung. Padahal, pasar butuh sinyal stabilitas dan kepastian. Dalam ekonomi, persepsi sering kali lebih kuat pengaruhnya dibanding fakta di lapangan.

