IHSG Terkapar 2% ke Bawah 7.800, Gejolak Politik dan Demo Jadi Sentimen Negatif
JAKARTA, investortrust.id – Kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pagi ini, Jumat (29/8/2025), hingga lebih dari 2% ke bawah level 7.800, mencerminkan rapuhnya psikologis pasar terhadap gejolak politik dan keamanan di dalam negeri. Penurunan dipicu atas pelemahan mayoritas sektor saham dengan penekan utama datang dari big cap.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, penurunan ini terjadi setelah sehari sebelumnya IHSG juga ditutup di zona merah, menandakan kekhawatiran investor mulai meningkat. “Penyebab utama tekanan ini bukan hanya faktor global, tetapi lebih pada kondisi domestik. Aksi massa yang merebak di Jakarta dan sejumlah daerah menjadi sentimen negatif karena meningkatkan ketidakpastian politik,” ujar Hendra kepada investortrust.id Jumat, (28/8/2025).
Baca Juga
Reliance Sekuritas Jagokan 4 Saham Hari ini, Ada WIRG dan FILM
Menurutnya pasar modal sangat sensitif terhadap isu stabilitas. Begitu muncul potensi risiko keamanan, investor asing maupun domestik cenderung menahan diri, bahkan melepas portofolio untuk mengamankan posisi likuid. “Gejolak sosial ini diperparah oleh respons pemerintah yang dinilai belum tepat. Alih-alih menjalin komunikasi terbuka dengan masyarakat, langkah yang muncul justru berupa himbauan work from home (WFH) bagi anggota DPR,” jelas dia.
Kebijakan ini menimbulkan persepsi bahwa pemerintah dan wakil rakyat lebih memilih menjauh ketimbang mendengar aspirasi langsung. Padahal, pasar butuh sinyal stabilitas dan kepastian. Dalam ekonomi, persepsi sering kali lebih kuat pengaruhnya dibanding fakta di lapangan.
“Tak mengherankan jika situasi ini menjadi sorotan media internasional. Investor global yang memantau Indonesia melihat adanya eskalasi ketidakpastian politik, yang berujung pada aksi jual di pasar keuangan. Inilah sebabnya IHSG cepat merespons dan tertekan signifikan. Kondisi serupa juga dialami nilai tukar rupiah yang ikut berfluktuasi,” paparnya.
Secara teknikal, Hendra memproyeksikan, IHSG kini bergerak mendekati area support penting di kisaran gap 7.800–7.840. Area ini diperkirakan menjadi penahan pertama bagi tekanan jual. Jika level ini berhasil bertahan, ada peluang IHSG kembali konsolidasi.
Baca Juga
India di Tengah Tekanan Global: Tarif AS, Minyak Rusia, dan Diplomasi China
“Namun bila jebol, risiko koreksi lebih dalam bisa terbuka. Oleh karena itu, banyak pelaku pasar saat ini memilih strategi defensif sembari menunggu kepastian arah kebijakan pemerintah,” bebernya.
Ke depan, kata Hendra, yang dibutuhkan adalah komunikasi yang jelas dan menenangkan dari pemerintah. Terlebih, beredar informasi bahwa pada Jumat siang pukul 13.00 akan ada aksi lanjutan dari BEM SI. Jika pemerintah mampu merangkul dan membuka dialog, maka pasar bisa kembali merespons dengan rasional dan tenang.
Namun, jika psikologis pasar terus diganggu oleh ketidakpastian, maka pelemahan IHSG sulit dihindari meski faktor fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat.

