Analis Sebut Emiten Tambang Beri Dampak Signifikan ke Penerimaan Negara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kinerja emiten pertambangan dinilai memberi efek signifikan terhadap penerimaan negara baik berupa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) maupun Pajak Penghasilan (PPh) Badan.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, mengatakan peningkatan kinerja emiten tambang biasanya berdampak positif terhadap kenaikan penerimaan negara.
“Kalau kinerja emiten pertambangan bagus, biasanya berdampak positif terhadap PNBP maupun PPh Badan. Namun yang terpenting, penerimaan tersebut harus dipergunakan seoptimal mungkin demi memperkuat kapasitas dan kapabilitas ekosistem pertambangan di Tanah Air secara sustainable,” ujar Nafan kepada investortrust.id Selasa, (26/8/2025).
Ia menekankan, pemanfaatan sumber daya alam sesuai amanat konstitusi harus ditujukan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Namun, tantangan tetap muncul seiring dengan penurunan harga komoditas global yang menekan rata-rata harga jual (average selling price/ASP) emiten tambang.
“Ketika harga komoditas dunia turun, otomatis mempengaruhi kinerja emiten dan berdampak pada PNBP maupun PPh Badan. Karena itu, harus ada fleksibilitas agar perusahaan tetap bisa bertahan,” jelasnya.
Menurut Nafan, diversifikasi usaha menjadi salah satu langkah penting bagi emiten tambang untuk menjaga keberlanjutan. Selain ekspansi ke sektor tambang non-batubara, perusahaan juga didorong menggarap energi baru terbarukan (EBT).
“Diversifikasi perlu didukung kebijakan pemerintah. Dengan begitu, emiten tambang bisa lebih sustainable dalam jangka panjang, sekaligus memberikan kepastian bagi investor di pasar modal,” katanya.
Baca Juga
Sektor Logam, Transportasi, dan Pertambangan Dominasi Serapan Investasi
Secara teknikal, ia menilai beberapa saham tambang masih menunjukkan tren positif. Misalnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang bergerak dalam tren naik (uptrend) di grafik mingguan. Begitu pula dengan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang berada dalam fase akumulasi meski cenderung sideways.
Secara fundamental, kinerja kedua emiten juga mencatat lonjakan signifikan. ANTM membukukan laba bersih Rp 2,33 triliun pada kuartal I-2025, melonjak hampir 10 kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 210,59 miliar. EBITDA ANTM pun menembus Rp 3,26 triliun, tumbuh 518% dibandingkan kuartal I-2024.
Adapun BRMS mencatat laba bersih US$ 22,2 juta pada semester I-2025, naik 136% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 9,43 juta. Pertumbuhan tersebut ditopang pendapatan yang melesat 97% menjadi US$ 120,8 juta, serta laba usaha yang melompat 209% menjadi US$ 50,1 juta.
Sementara itu, Penggiat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa menilai lonjakan harga komoditas global biasanya mendongkrak setoran negara, sementara penurunan produksi atau koreksi harga dapat langsung menekan penerimaan. Menurutnya potensi penurunan PNBP masih terbuka apabila harga acuan global kembali melemah.
“Saat harga komoditas tinggi, PNBP melonjak, namun ketika produksi melemah, penerimaan negara bisa langsung tertekan. Jika harga acuan global kembali turun, PNBP berpotensi semakin turun,” ujar Reydi saat dihubungi investortrust.id di Jakarta, Selasa (26/8/2025).
Menurut Reydi, sebagian besar investor telah memperhitungkan risiko regulasi dan fluktuasi harga dalam valuasi saham tambang. Hal ini tercermin dari pelemahan harga saham sejumlah emiten pertambangan dalam beberapa bulan terakhir.
“Pergerakan tersebut mencerminkan pasar mulai berhati-hati menghadapi dinamika sektor tambang, baik dari sisi regulasi maupun volatilitas harga,” tambahnya.

