Bitcoin (BTC) Menuju US$ 400.000? Analis Prediksi Kenaikan yang Signifikan
Poin Penting
|
Baca Juga
The Fed Ungkap Ekspektasi Kuat untuk Pemangkasan Suku Bunga, Bitcoin Kembali Naik ke US$ 124.000
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai kebijakan ekspansif Amerika Serikat, termasuk injeksi dana US$ 2,5 triliun melalui program Reverse Repo, akan menjadi bahan bakar utama siklus bullish Bitcoin berikutnya. “Kebijakan moneter longgar mengurangi daya tarik aset berbasis fiat dan memperkuat narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap pelemahan dolar AS. Seperti tahun 2020–2021, penurunan imbal hasil riil biasanya diikuti lonjakan permintaan kripto, khususnya BTC,” jelasnya.
Arus masuk ke ETF Bitcoin menunjukkan peningkatan signifikan. Data dari Bitwise menunjukkan total inflow mencapai US$22,5 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2025, dan diproyeksikan menembus US$ 30 miliar pada akhir tahun.
Sementara itu, Graniteshares telah mengajukan ETF Bitcoin dengan leverage 3x, dan Tether mengungkap kepemilikan 100.000 BTC, disusul Metaplanet yang menambah 797 BTC ke perbendaharaannya.
Fyqieh memperkirakan arus masuk ETF akan “mencetak rekor baru” di kuartal IV karena meningkatnya perhatian investor ritel dan institusi terhadap Bitcoin. Ia menilai tren ini memperlihatkan “pergeseran paradigma” di pasar keuangan global.
“Institusi kini tidak hanya melihat Bitcoin sebagai aset spekulatif, tapi juga sebagai cadangan nilai dan instrumen volatilitas terukur. Persetujuan ETF dengan leverage dapat memperkuat tren akumulasi institusi dan meningkatkan volume pasar spot.”
Secara teknikal, Bitcoin sempat menembus level tertinggi mingguan di US$ 126.198 sebelum terkonsolidasi di kisaran US$ 122.000 atau sekitar Rp 2,01 miliar. Indikator MACD positif (+941) menandakan momentum bullish masih bertahan, sementara RSI di 64,9 menunjukkan pasar belum jenuh beli.
Area support penting berada di US$ 119.500, bertepatan dengan level Fibonacci 50%, sementara resistensi kuat di US$ 124.850 menjadi konfirmasi potensi kenaikan menuju US$ 130.000 atau sekitar Rp 2,14 miliar jika ditembus.
Fyqieh menilai volatilitas rendah yang terlihat pada Bollinger Band squeeze justru menjadi sinyal menarik. “Pasar tengah memasuki fase konsolidasi sehat. Jika BTC mampu bertahan di atas US$ 120.000 dan menembus US$ 124.850, peluang menuju US$ 130.000 terbuka lebar. Namun, kegagalan mempertahankan level US$ 119.500 dapat memicu koreksi jangka pendek hingga US$ 117.000,” jelasnya.
Meski momentum Bitcoin positif, analis tetap memperingatkan risiko eksternal. Lonjakan harga emas hingga US$ 4.000 per ons dan peringatan analis veteran Peter Brandt soal potensi “puncak siklus” menunjukkan bahwa aset lindung nilai sedang menjadi pusat perhatian investor global.
“Kunci penggerak Bitcoin ke depan ada pada keseimbangan antara kebijakan The Fed dan kekuatan inflow ETF. Jika The Fed menunda pemangkasan suku bunga, arus masuk ETF harus tetap kuat agar tren bullish tidak kehilangan momentum,” tambah Fyqieh.

