Astra (ASII) Akuisisi Perkuat Portofolio Bisnis, Valuasi Saham makin Menarik?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Langkah agresif PT Astra International Tbk (ASII) memperluas portofolio bisnisnya melalui aksi korporasi strategis di sektor energi terbarukan, properti, hingga digital otomotif, semakin memperkuat outlook kinerja keuangan dan saham ke depan. Meskipun peseroan masih mengadapi tekanan dai lini otomotif dan energi.
Hal ini mendorong MNC Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 6.300 untuk saham ASII. Saat ini, saham konglomerasi otomotif, keuangan, dan infrastruktur ini menawarkan valuasi yang atraktif, yaitu diperdagangkan pada level -1STD PE 5 tahun terakhir, yaitu 6,9kali. Aksi borong saham ASII mencapai Rp 1,65 triliun dalam sebulan terakhir juga menjadi dukung positif terhadap saham ini.
Baca Juga
Saham ASII Melesat dan Diborong Asing Hari Ini, Bagaimana Target Harganya?
Target harga tersebut juga mencerminkan valuasi PE tahun ini sekitar 7,9 kali dan sebanyak 7,1 kali pada 2026. “Posisi keuangan yang solid dan kekuatan merek dinilai menjadi pendorong utama pertumbuhan, meski persaingan dari merek asal Korea dan China tetap menjadi tantangan,” tulis analis MNC Sekuritas M Rudy Setiawan dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, hai ini.
Sejumlah akuisisi yang sudah direalisasikan perseroan sebagai bagian dari penguatan portofolio, yaitu pada Juni 2025, ASII melalui PT United Tractors Tbk (UNTR) mengakuisisi 30,6% saham PT Supreme Energy Sriwijaya (SES) senilai US$ 30,8 juta atau sekitar Rp 501 miliar. SES memiliki 25,2% saham di PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD), operator PLTP Rantau Dedap di Sumatra Selatan dengan kapasitas terpasang 91,2 MW. Dengan transaksi ini, kepemilikan efektif UNTR di SERD naik dari 32,7% menjadi 40,4%.
Akuisisi dilanjukan pada Juli 2025, ASII melalui entitas propertinya PT Saka Industrial Arjaya (SIA) mengakuisisi 83,7% saham PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP). Aksi ini menjadikan SIA sebagai pengendali baru MMLP dan sejalan dengan strategi Astra memanfaatkan pertumbuhan permintaan infrastruktur industri dan logistik di Indonesia.
Baca Juga
Pendapatan Astra International (ASII) Capai Rp 162,85 Triliun di Semester I-2025
Sebelumnya pada April 2025, Toyota Motor Asia (Singapore) Pte. Ltd. (TMA) menginvestasikan US$ 120 juta atau sekitar Rp 2 triliun untuk menguasai 40% saham PT Astra Digital Mobil (ADMO), operator bisnis mobil bekas online-to-offline OLXmobbi.
Pasca transaksi, ASII tetap menjadi pengendali dengan porsi 60%. Kolaborasi ini memperkuat kemitraan jangka panjang Astra dan Toyota untuk memodernisasi pasar mobil bekas, sekaligus memperluas akses konsumen terhadap kendaraan berkualitas, pembiayaan, asuransi, hingga layanan purna jual.
“Kendati demikian, prospek bisnis otomotif ASII tahun ini diperkirakan tetap terbatas akibat lemahnya daya beli dan potensi PHK yang bisa menekan permintaan kendaraan roda empat dan roda dua. Implementasi opsen pajak secara nasional juga dikhawatirkan mendorong kenaikan harga kendaraan. Di sisi lain, penurunan harga batu bara berpotensi menekan kontribusi laba dari segmen kontrakto batu bara perseroan,” tulisnya.
Meski begitu, dari sisi valuasi, saham ASII masih menarik. Saat ini ASII diperdagangkan pada level -1STD PE 5 tahun terakhir, yaitu 6,9x, dengan dukungan aliran dana asing bersih sekitar Rp1,6 triliun per 19 Agustus 2025.

