Harga Saham Astra International (ASII) Disebut Makin Menarik Karena Potensi 'Undervalue'
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Astra International Tbk (ASII) disebut semakin menarik dengan potensi undervalue. Mengingat, perusahaan multi-sektor ini tengah mengalami penurunan harga saham dalam beberapa waktu terakhir.
“Bisa dikatakan setiap penurunan harga, membawa ASII makin menarik karena potensi undervalue-nya,” ujar Pengamat Pasar Modal Wahyu Tri Laksono kepada Investortrust, Kamis (20/2/2025).
Sebagai kesempatan bagi investor untuk mengoleksi saham ASII, Wahyu menyebut bahwa harga saham dari industri otomotif itu masih berpotensi melemah. Hal ini diproyeksi terjadi, meski kinerja keuangan perseroan diakui tetap lumayan memuaskan, baik dari segi laba maupun pendapatan sampai kuartal III-2024.
Dalam laporan keuangan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) laba Astra International tercatat naik 0,63% dari Rp 25,69 triliun pada kuartal III-2024 menjadi Rp 25,85 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun 2024.
“(Harga saham ASII) masih testing dan penasaran ke fibo 78,6%. Pelemahan ASII tidak aneh karena tren IHSG jelas tertekan belakangan ini. Namun untuk jangka panjang, ASII masih menarik,” jelas Wahyu.
Dia tak memungkiri bahwa perusahaan yang dipimpin Djony Bunarto Tjondro itu akan turut menghadapi ketidakpastian ekonomi global, perlambatan ekonomi China, serta isu perang tarif dan perang dagang yang diprovokasi oleh Trump.
Baca Juga
Masih kuatnya ekonomi Amerika Serikat (AS) dan menguatnya daya tarik bursa Wall Street, disebut jelas menciptakan pelarian kapital menuju AS yang sulit dihindari. Wahyu pun menegaskan bahwa kebijakan Bank Indonesia (BI) bukanlah faktor utama dari pelemahan daya beli yang turut memengaruhi sejumlah perusahaan terbuka.
Kebijakan moneter dan fiskal domestik, dinyatakan jelas sebagai faktor independen yang juga bergantung pada faktor utama, yakni perkembangan kondisi AS dan China. Saham ASII pun, Wahyu sebut, masuk dalam bagian tren pelemahan IHSG karena faktor fundamental global.
“Jadi pelemahan saat ini masih potensial berlanjut. Namun, semakin mendekati level potensial buy on weakness jangka panjangnya,” tegasnya.
Menurut Wahyu, Astra International terus bergerak dengan kebijakan strategis dan kreatif. Tahun ini, Astra mengatur ulang strategi dan rencana investasi, dengan terus berfokus pada diversifikasi portofolio investasi.
ASII melihat peluang pertumbuhan di sektor-sektor yang mendukung transformasi dan keberlanjutan, seperti teknologi, energi terbarukan, dan kesehatan. Di sektor teknologi, Astra telah berinvestasi di bisnis data center bersama Equinix sejak tahun 2023.
Pada sektor energi terbarukan, investasi dilakukan melalui anak usahanya, PT United Tractors Tbk (UNTR), meliputi geothermal, solar PV, dan mini hidro. Sementara di sektor kesehatan, Astra berinvestasi di Halodoc dan RS Hermina.
Baca Juga
Market Share Naik, Astra (ASII) Kuasai 56% Pasar Mobil Semua Segmen dan 75% Mobil LCGC
Dari semua sudut pandang itu, Wahyu meyakini harga saham ASII bisa menyentuh level Rp 6.000 tahun ini, serta bisa bergerak ke kisaran Rp 5.400 dalam jangka menengah.
Dihubungi secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta mengakui bahwa secara teknikal, pergerakan harga saham ASII memang masih berada dalam tren penurunan.
Namun dia merekomendasikan investor untuk trading buy saham Astra International dengan target harga mencapai Rp 4.920.
“Saat ini kondisi ASII dihadapi pelemahan daya beli masyarakat. Namun bila Astra ingin ekspansi ke sektor kesehatan, harus mempertimbangkan dan membuat mitigasi dari volatilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar,” pesan Nafan, melalui sambungan telepon.
Pasalnya, dia memandang, industri kesehatan banyak melakukan impor produk, mulai dari alat kesehatan sampai bahan baku obat. Dengan begitu, ekspansi di bidang kesehatan berpotensi membuat kinerja harga saham relatif melemah di dalam tren penurunan saat ini.
Sebelumnya, Presiden Direktur Astra International, Djony Bunarto Tjondro mengungkapkan bahwa sektor yang menjadi fokus akuisisi Astra masih sejalan dengan strategic direction jangka panjang perusahaan.
Pertama, dari divisi bisnis alat berat dan pertambangan, Astra telah menetapkan peta jalan transisi, yaitu diversifikasi ke bisnis mineral non-batu bara. Contohnya seperti akuisisi telah dilakukan di sektor nikel, yaitu akuisisi PT Stargate Pasific Resources dan Nickel Industries Limited.
“Kami akan terus mengkaji peluang yang ada agar dapat memperluas portofolio kami di bidang mineral non-batu bara,” jelas Djony pada akhir 2024.
Baca Juga
Kedua, pada infrastruktur, manajemen mengakui bahwa industri ini sudah mulai memberikan kontribusi berarti bagi Astra dan berpotensi menjadi mesin pertumbuhan Astra di masa depan.
Infrastruktur merupakan lini yang Astra masuki melalui bisnis jalan tol pada 2005. Saat ini, Astra International mengelola delapan ruas jalan tol, yang sebagian besar berlokasi di Jawa dan Metro Jakarta.
“Ke depannya, kami melihat infrastruktur sebagai salah satu fokus investasi kami, dengan mempertimbangkan seleksi dan prioritas yang baik, serta parameter investasi yang telah kami tetapkan,” sambung Djony.
Ketiga, pada bidang layanan kesehatan, Astra meyakini bahwa sektor ini memiliki prospek pertumbuhan yang baik di Indonesia. Selain itu, perseroan menyampaikan keinginan berpartisipasi aktif dalam memberikan layanan kesehatan yang lebih terjangkau dan akses layanan kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia.
ASII telah menjajakan kaki melalui investasi di platform layanan kesehatan Halodoc dan Rumah Sakit Hermina. Kemudian memproduksi alat-alat kesehatan, yang dilakukan oleh salah satu unit bisnis Astra, yaitu PT Astra Otoparts Tbk.
Djony sempat menegaskan, bidang layanan kesehatan menjadi salah satu fokus yang penting bagi Astra ke depan.
“Selain tiga fokus tersebut, kami memandang investasi maupun ekspansi pada bisnis inti kami lainnya juga merupakan hal yang penting,” sambungnya.
Terkait besarnya peluang dari bidang yang menjadi fokus Astra tersebut, bisnis infrastruktur jalan tol diakui sudah memberi kontribusi berarti bagi perusahaan. Manajemen pun berharap, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya mobilitas masyarakat di Indonesia, traffic volume kendaraan juga akan meningkat.
Sehingga hal tersebut menjadi peluang yang baik bagi Astra untuk terus bertumbuh.
“Kami berharap peluang yang diberikan dari bidang mineral non-batubara dapat memberikan hasil positif, karena investasi-investasi yang kami lakukan telah melalui proses review dengan kajian-kajian internal yang ketat,” tegas Djony lebih lanjut.
Namun manajemen mangku, belum dapat memberikan informasi mengenai rencana akuisisi ke depan secara detail. Tetapi Djony mengakui, terdapat beberapa proyek dalam antrean (pipeline) yang sedang dikaji perusahaan.

