BCA di Tengah Isu Pengambilalihan Paksa 51% Saham oleh Danantara
Poin Penting
|
Oleh Hari Prabowo,
Ketua Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pasar Modal (LP3M) Investa dan pengamat pasar modal
INVESTORTRUST.ID - Publik dikejutkan oleh kabar tak sedap tentang usulan pengambilalihan 51% saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA) secara paksa oleh negara melaui Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia).
Isu ini dikaitkan dengan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang digelontorkan negara kepada BCA setelah bank tersebut dilanda rush saat Indonesia diguncang krisis moneter 1998, berlanjut ke program divestasi yang dinilai bermasalah.
Kabar ini telah menimbulkan sentimen negatif di lantai bursa,ditandai oleh penurunan harga saham emiten bersandi BBCA tersebut. Secara year to date (ytd) atau sejak awal tahun hingga akhir pekan lalu (Jumat, 15/8/2025), harga saham BBCA anjlok 10% ke level Rp 8.700.
“Bola panas” ini dilontarkan Ketua Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Keuangan Negara (LPEKN) yang juga ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Sasmito Hadinegoro. Sebelumnya, pada Juni 2023, Sasmito meminta skandal BLBI yang berkaitan dengan BCA dibongkar dan diumumkan kepada publik.
Baca Juga
Belum ada penjelasan rinci dari mana angka 51% saham BCA yang diusulkan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk diambil alih tersebut.
Isu agar saham BBCA diambil alih negara berembus makin kencang setelah Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR/anggota Komisi XIII DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Ahmad Iman Syukri, mendukung usulan ini.
Namun, di sisi lain, anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PKB lainnya, Tomny Kurniawan, menilai pernyataan itu tidak tepat disampaikan di tengah meningkatnya kinerja investasi nasional. Tommy mengingatkan bahwa isu lama seperti BLBI seharusnya tidak dikaitkan dengan bank swasta seperti BCA karena pemerintah sudah mempunyai mekanisme penyelesaian dengan pemegang saham.
BCA adalah perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa (listed company). Komposisi pemegang saham BCA yaitu masyarakat sebesar 42,46%, PT Dwimuria Investama Andalan sebagai pengendali sebesar 54,94%, sisanya pemegang saham lain dengan kepemilikan di bawah 5%.
Kinerja keuangan BCA menunjukkan fundamental yang solid. Bank swasta terbesar di Indonesia ini membukukan laba bersih Rp 29 triliun pada semester I-2025, tumbuh 8% dibandingkan Rp 26,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan laba BCA didukung ekspansi kredit yang meningkat 12,9% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 959 triliun per Juni 2025. Kapitalisasi pasar (market cap) BBCA per 15 Agustus 2025 mencapai Rp 1.062 triliun. Dengan angka itu, BCA menyandang predikat sebagai emiten berkapitalisasi pasar terbesar kedua di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdampak Negatif
Usulan agar 51% saham BCA diambil alih negara bisa kontraproduktif terhadap upaya pemerintah menarik investasi dan upaya otoritas bursa meningkatkan kepercayaan pasar.
Apa pun alasannya, setiap pernyataan yang berkaitan dengan listed company hendaknya didukung argumen yang valid dan analisis yang kuat agar tidak menimbulkan gejolak di pasar, yang ujung-ujungnya dapat merugikan para investor, khususnya investor publik.
Divestasi saham BCA telah selesai dilakukan pemerintah dua dekade silam. Sekadar menyegarkan ingatan, saat krisis moneter mencabik-cabik perekonomian Indonesia pada 1998, BCA dilanda rush. Alhasil, BCA menjadi bank take over (BTO) dan masuk program rekapitalisasi dan restrukturisasi oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang dibentuk pemerintah.
Pada 1999, proses rekapitalisasi BCA selesai. Pemerintah melalui BPPN menguasai 92,8% saham BCA sebagai hasil pertukaran dengan BLBI. Dalam proses rekapitalisasi tersebut, kredit pihak terkait dipertukarkan dengan obligasi pemerintah (obligasi rekap).
Baca Juga
Rayakan HUT Ke-80 RI, BCA Tawarkan Promo Mulai Rp 17 Ribu di Puluhan Merchant Pilihan
Pada tahun 2000, BPPN melakukan divestasi 22,5% dari seluruh saham BCA melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham BBCA, sehingga kepemilikan BPPN berkurang menjadi 70,3%.
Pada 2001, penawaran publik kedua (secondary public offering/SPO) 10% dari total saham BCA digelar, sehingga kepemilikan BPPN terhadap saham BBCA berkurang menjadi 60,3%.
Pada 2002, FarIndo Investment (Mauritius) Ltd mengambil alih 51% total saham BCA melalui proses tender strategic private placement. Lalu pada 2004, BPPN melakukan divestasi 1,4% saham BCA kepada investor domestik melalui penawaran terbatas.
Selanjutnya pada 2005, pemerintah melalui PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) melakukan divestasi seluruh sisa kepemilikan saham BCA sebesar 5,02%.
Kinerja Bagus
Faktanya, di bawah pemegang saham pengendali saat ini, BCA mencatatkan kinerja bagus dan menjadi bank tepercaya. Sebagai Bank yang solid dan konsisten menghasilkan laba, tentu Bank BCA juga telah berkontribusi kepada negara dalam bentuk pembayaran pajak.
Sebagai bank besar yang telah go public, BCA sangat sensitif terhadap isu yang berkembang. Di pihak lain, investor dan nasabah sangat berkepentingan terhadap kondisi BCA, baik sebagai media investasi maupun sebagai bank atau lembaga intermediasi, khususnya tempat menyimpan dana masyarakat. Investor dan nasabah menaruh kepercayaan yang sangat besar terhadap bank.
Maka berkembangnya isu pengambilalihan BCA oleh negara sangat disayangkan karena berpotensi menimbulkan kegaduhan serta menurunkan kepercayaan publik terhadap perbankan dan investor di pasar modal.
Yang lebih fatal lagi adalah efek berantai, di mana iklim investasi yang sedang kita bangun bersama menjadi buyar lagi hanya gara-gara isu yang masih menimbulkan perdebatan.
Agar isu yang sensitif ini tidak bergerak liar dan membesar, pemerintah hendaknya segera memberikan pernyataan sikap yang bijak agar iklim investasi dan kepercayaaan masyarakat terhadap perbankan tetap terjaga.
Jangan ada kesan bahwa dalam situasi negara butuh dana besar lantas main paksa mencari sumber dana secara sembarangan, apalagi tanpa mempertimbangkan aturan dan hukum yang berlaku.
Baca Juga
BRI Danareksa Sekuritas Revisi Naik Target IHSG ke 7.960, Lima Saham Dipimpin BBCA Pilihan Teratas
Jika persoalan utamanya terletak pada harga divestasi yang dinilai terlalu murah, maka harus dilihat situasi saat itu dan siapa yang "bermain" harga, tanpa menimbulkan gejolak pada BCA.
Untuk membangun dan mengembangkan BCA sampai menjadi bank besar di kawasan Asia Tenggara tentu pengendali butuh biaya, sumber daya, dan inovasi yang tidak sedikit.
Investor yang membeli saham BCA, baik secara langsung di bursa maupun melalui reksa dana pasti diliputi rasa was-was akibat isu pengambilalihan saham ini. Apalagi basis perhitungannya tidak jelas dari mana.
Bisa saja mereka berpikir, jangan-jangan yang diusulkan untuk diambil alih negara termasuk saham masyarakat. Belum lagi yang berkaitan dengan kinerja BCA andai diambil alih, apakah akan tetap solid? Kita semua tentu berharap isu ini bisa segera "didinginkan" untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif. ***

