Saham DCII Keluar dari Papan Pemantauan, Jurus BEI Wujudkan IHSG Tembus 8.000?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dari papan pemantauan khusus dengan mekanisme perdangan full call auction (FCA) mulai sesi I, Jumat (14/8/2025). Keputusan ini bagian dari skenario untuk mendongkrak indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI ke level 8.000 sebelum HUT RI ke-80?
BEI dalam penjelelasan resminya di Jakarta, Kamis (14/8/2025), menyebutkan bahwa saham DCII dikeluarkan secara resmi dari papan pemantauan khusus. DCII dikeluarkan bersama dengan saham PT Mandala Multifinance Tbk (MFIN). Dengan demikian saham DCII dan MFIN hanya menghuni PPK selama 7 hari.
Baca Juga
Pantas Sahamnya Terbang hingga Disuspensi, DCI Indonesia (DCII) ternyata Cetak Lompatan Laba Segini
Saham DCII merupakan tulang punggu pendongkrak IHSG sepanjang year to date (ytd) dengan kontribusi 344,16 poin terhadap penguatan IHSG. Besarnya kontribusi setelah saham ini melesat sebanyak 699,64% sepanjang ytd. Sedangkan penyumbang terbesar kedua terhadap penguatan IHSG adalah saham DSSA dengan kontribusi 211,24 poin dan ketiga saham BRPT dengan kontribusi 85,60 poin.
Sebagaimana diketahui saham DCII telah menghuni PPK BEI sejak 6 Agustus 2025 setelah mengalami suspensi lebih dari satu hari perdagangan. Sedangkan pemicu utama suspensi adalah kenaikan signifikan harga saham DCII sebanyak 130% menjadi Rp 346.725 dalam sebulan terakhir sebelum dikenai suspensi.
Sedangakan pada penutupan perdagangan saham BEI hari ini, saham DCII ditutup melesat sebanyak 10% menjadi Rp 336.650. Dengan harga tersebut, kapitalisasi pasar saham emiten yang dikendalikan Otto Toto Sugiri, Marina Budiman, dan Han Arming Hanafia, menjadi Rp 802,23 triliun atau menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar ketiga di BEI.
Baca Juga
Cetak ATH Penutupan 7.931, IHSG Butuh Dorongan 0,87% demi Capai Level 8.000 di HUT RI ke-80
Terkait kinerja keuangan, laba bersih emiten portofolio Anthony Salim ini melesat dari Rp 299,62 miliar menjadi Rp 616,95 miliar. Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan pendapatan dari Rp 737,30 miliar menjadi Rp 1,33 triliun hingga Juni 2025.
Emiten data center terbesar di Indonesia ini juga membukukan lompatan laba usaha dari Rp 378,66 miliar menjadi Rp 741,61 miliar pada semester I-2025. Adapun laba per saham dasar melesat dari Rp 126 menjadi Rp 259 per saham.

