Saham Green Power (LABA) ke Luar dari Papan Pemantauan BEI, Simak Target Bisnis Usai Pergantian Pengendali
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Green Power Group Tbk (LABA) resmi ke luar dari papan pemantauan khusus (PPK) Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai transaksi sesi I, Rabu (11/9/2024). Sedangkan dalam perdagangan tiga hari terakhir, saham LABA ditutup terkoreksi hingga auto reject bawah (ARB).
Berdasarkan data BEI, saham LABA masuk PPK setelah mengalami suspensi perdagangan lebih dari satu hari bursa. Suspensi tersebut dipicu atas lompatan harga saham LABA setelah dituntaskan perubahan pengendali.
Saat diperdagangangkan di papan pemantauan khusus selama tujuh hari, saham LABA berhasil melesat hingga auto reject atas (ARA) selama empat hari hingga level Rp 775. Sedangkan tiga hari terakhir, saham LABA berbalik mengalami penurunan hingga auto reject bawah (ARB) menjadi Rp 570. Meski demikian, saham LABA masih ditutup di atas harga sebelum suspensi Rp 540.
Baca Juga
Green Power (LABA) Target Produksi Baterai Lithium 200 Ribu Pcs Pasca Berganti Pengendali
Penurunan harga saham LABA dalam tiga hari terakhir terjadi setelah pengendali baru, yakni PT Nev Stored Energy mengumumkan harga penawaran tender wajib Rp 121 per saham.
Terkait harga tender wajib yang lebih rendah dari harga pasar, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna sebelumnya menegaskan, pemegang saham publik tidak wajib melepas kepemilikan sahamnya di LABA.
“Tujuan penawaran tender wajib adalah untuk memberikan kesempatan kepada pemegang saham publik dalam hal berniat menjual sahamnya kepada pengendali baru pada harga penawaran tender wajib,” jelas Nyoman.
Sebagai informasi, pengendali baru, PT Nev Stored Energy, telah menuntaskan akuisisi 560 juta saham LABA dari pemegang saham lama pada 28 Juni 2024, sehingga terjadi perombakan pemegang saham pengendalinya. Saham tersebut diakuisisi dengan harga pelaksanaan Rp 53,12 per saham.
Baca Juga
Tender Offer Saham Green Power (LABA) Kemurahan? Begini Komentar BEI
Adapun rencana bisnis LABA pasca akuisisi saham oleh NSE selama tiga tahun ke depan yaitu, produksi sebanyak 200 ribu pcs baterai litium kendaraan listrik untuk bisnis manufaktur pada tahun 2027. ‘’Perseroan juga diproyeksikan dapat menyelesaikan pergantian 400 baterai truk,’’ kata William.
Sementara dalam bisnis penukaran baterai, LABA memproyeksikan terdapat jaringan stasiun penukaran baterai sebanyak 3.500 stirage box termasuk power supply untuk pengisian ulang baterai kendaraan listrik yang akan tersebar di banyak titik.
Sementara dalam kegiatan stasiun tenaga surya LABA memproyeksikan terdapat pembangkit listrik fotovoltaic dengan kapasitas 30MV yang menghasilkan 40 juta kWh. ‘’Sedangkan dalam kegiatan manajemen aset baterai, kami proyeksikan sudah pada tahap komersial,’’ tuturnya.
Grafik Saham LABA

