Saham Astra International (ASII) Melesat hingga Diburu Investor Asing dalam Sebulan, Begini Target Harganya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Astra International Tbk (ASII) berhasil mencatatkan penguatan harga yang mengesankan dalam sebulan terakhir. Bahkan, saham emiten konglomerasi ini masuk dalam daftar top 3 yang diborong pemodal asing dalam 30 hari terakhir.
Berdasarkan data, harga saham ASII melesat sebanyak 10,58% menjadi Rp 5.175 dalam sebulan terakhir. Kenaikan harga tersebut sejalan dengan penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam kurun waktu yang sama mencapai 13,93% menjadi 7.892.
Baca Juga
Astra Jual 31.772 Mobil di Juli 2025, Pangsa Pasar Tetap 54% di Tengah Optimisme di Semester II 2025
Saham ASII juga menjadi pilihan teratas yang diborong (net buy) pemodal asing dalam sebulan terakhir mencapai Rp 1,26 triliun. Saham ASII masuk dalam daftar top three saham dengan net buy terbanyak dalam sebulan terakhir setelah saham TLKM dengan net buy Rp 2,21 triliun dan BBRI dengan net buy Rp 1,79 triliun.
Seberapa jauh saham ASII bisa menguat? Berdasarkan riset sejumlah analis terungkap bahwa potensi penguatan harga saham emiten konglomerasi ini masih terbuka lebar ke depan. Mandiri Sekuritas dalam riset terakhirnya menyebutkan bahwa meski kinerja segmen otomotif roda empat (4W) rendah, perseroan masih berhasil pertahankan kinerja kuat dari segmen penjualan roda dua (2W) hingga semester I-2025.
Kinerja perseroan juga menunjukkan pertumbuhan kuat dari segmen jasa keuangan, sehingga bisa menjadi penopang laba bersih secara keseluruhan. Dengan mempertimbangkan kinerja tersebut, Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 6.350 per saham.
Baca Juga
Pendapatan Astra International (ASII) Capai Rp 162,85 Triliun di Semester I-2025
Rekomendasi beli saham ASII juga diberikan BRI Danareksa Sekuritas. Rekomendasi tersebut mempertimbangkan realisasi laba semester I-2025 senilai Rp 16 triliun setara dengan 53% dari proyeksi BRI Danareksa Sekuritas dan 50% konsensus analis untuk tahun penuh 2025 atau sejalah dengan ekspektasi pasar.
Laba bersih tersebut ditopang anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR) yang membukukan laba operasi Rp 6,2 triliun didorong perbaikan kondisi cuaca yang meningkatkan produksi Pama Persada. Berdasarkan data kinerja keuangan ASII semester I terungkap bahwa seluruh segmen bisnis berhasil catatkan pertumbuhan kecuali otomotif, penjualan alat berat, hingga infrastruktur-logistik.
Segmen agribisnis menunjukkan lonjakan laba operasi menjadi sebanyak 78,8% menjadi Rp 1,03 triliun pada semester I-2025 berkat penguatan harga CPO, segmen informasi teknologi naik 30% menjadi Rp 117 miliar, segmen property naik 14,5% menjadi Rp 63 miliar.
Baca Juga
IHSG Optimistis Tembus 8.000 Pekan Ini Ditandai Sejumlah Sentimen Ini
Begitu juga dengan segmen jasa keuangan membukukan pertumbuhan laba operasi sebanyak 5,6% menjadi Rp 4,65 triliun pada semester I-2025. “Kombinasi kinerja positif UNTR, agribisnis, dan jasa keuangan berhasil mengimbangi penurunan tajam laba operasi dari segmen otomotif roda empat yang merosot 42% qoq dan 87% yoy,” tulis riset tersebut.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 5.800 per saham. Target ini mempertimbangkan proyeksi perbaikan kinerja UNTR pada semester I-2025 hingga mampu untuk menutup berlanjutnya pelemahan segmen otomotif.

