BEI Incar Top 10 Market Cap di Dunia di 2029, Sejumlah Aksi Ini Disiapkan
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan kapitalisasi pasar (market cap) senilai Rp 20.000 triliun atau menempati 10 besar di antara bursa global pada 2029.
Direktur Utama BEI Iman Rachman mengungkapkan, sejak awal 2025, kapitalisasi pasar telah tumbuh 10% dan saat ini menempati posisi ke-17 dengan nilai Rp 13.595 triliun. Bahkan, market cap BEI sempat menebus rekor tertinggi (all time high/ATH) sebesar Rp 13.701 triliun pada 29 Juli 2025.
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Melesat 0,75%, Dua Saham Emiten Grup Besar Ini Jadi Motor Penggerak
“Melihat tren pertumbuhan tersebut, kami optimistis terhadap market cap BEI pada 2029–2030 itu mencapai 10 besar, dibandingkan dengan bursa-bursa global. Jadi kita berharap bahwa rekor market cap ini akan terus terlampaui, seiring dengan perbaikan kinerja perusahaan, kondisi domestik maupun kondisi global,” terang Iman Rachman dalam paparan konferensi pers peringatan HUT ke-48 Pasar Modal Indonesia di Gedung BEI, Jakarta, Senin (11/8/2025).
Guna mencapai target tersebut, dia menambahkan, BEI membidik mematok target ambisius, seperti 1.200 emiten dan market cap BEI bernilai Rp 20.000 triliun pada 2029. Dua fokus utama disiapkan untuk mencapai target tersebut. Pertama, peningkatan jumlah emiten dari posisi saat ini sebanyak 954 menjadi 1.200 perusahaan pada 2029.
Fokus kedua, peningkatan likuiditas pasar. BEI mematok target nilai transaksi harian meningkat menjadi Rp 20 triliun, dibandingkan dengan rata-rata transaksi harian saham di BEI pada 2024 senilai Rp 12,85 triliun. Tak hanya menargetkan nilai transaksi, BEI membidik kapitalisasi pasar (market cap) meningkat menjadi Rp 20.000 triliun pada 2029. “Target kita di 2029 dari 2024 Rp 12.336 triliun menjadi Rp 20.000 triliun, target kita di 2029,” jelasnya.
Baca Juga
OJK Beri Kelonggaran Batas Waktu 45 Hari Bagi Perusahaan Asuransi Sampaikan Lapkeu PSAK 117
BEI juga menyiapkan berbagai strategi dari sisi ekuitas BEI dengan penambahan instrumen baru, termasuk potensi penerbitan produk di September, apabila kondisi pasar memungkinkan. Dari sisi surat utang, penguatan dilakukan melalui pengembangan platform OTC trading untuk Sistem Penyelenggaraan Perdagangan Alternatif (SPPA), implementasi transaksi repo, serta kolaborasi dengan Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan untuk optimalisasi perdagangan obligasi dan manajemen likuiditas.
Sementara di pasar derivatif, BEI menargetkan penambahan kontrak berjangka berbasis indeks dan saham tunggal. “Tapi yang penting adalah bahwa secara sumber daya manusia, secara institution maupun AI ini tentu saja akan men-support bagaimana bursa bisa mencapai target yang dicanakan pemerintah terkait dengan GDP 8% di 2029,” bebernya.

