Kinerja Merosot 521%, TBS Energi (TOBA) Cetak Rugi US$ 60 Juta, Ini Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) membukukan rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 60,05 juta atau Rp 978,92 miliar pada kuartal I-2025. Jumlah ini terhitung merosot 521% dari laba bersih kuartal I-2024 yang sebesar US$ 11,52 juta.
Sementara itu, pendapatan konsolidasi perseroan tercatat US$ 71,5 juta, turun 42,47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Penurunan kinerja keuangan emiten energi terintegrasi itu beriringan dengan perubahan komposisi bisnis dan selesainya divestasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Namun, menurut Direktur Keuangan TBS Energi Utama, Juli Oktarina, perusahaan membukukan kinerja operasional yang stabil pada kuartal pertama tahun ini di tengah proses transformasi portofolio bisnis menuju sektor-sektor berkelanjutan.
Baca Juga
TBS Energi (TOBA) Bagi Dividen Tertinggi Sejak IPO, Segini Totalnya
“Perseroan mencatatkan EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) yang sehat dan total arus kas bersih (net cash flow) yang mencerminkan fundamental kuat dalam menjalankan kegiatan usaha,” kata Juli Oktarina dalam keterangan resmi, Kamis (30/5/2025).
Emiten berkode saham TOBA ini mengumumkan EBITDA yang disesuaikan sebesar US$ 15,8 juta. Sedangkan posisi total arus kas bersih berada pada level US$ 44,1 juta yang berdampak pada peningkatan posisi cash balance menjadi US$ 126,1 juta pada akhir kuartal. “Ini menunjukkan posisi likuiditas yang kuat,” tutur Juli.
Dari sisi neraca, menurut Juli Oktarina, total aset perseroan meningkat 11% menjadi US$ 1,04 miliar, didorong oleh ekspansi strategis di sektor energi terbarukan dan pengelolaan limbah. Di sisi lain, total ekuitas tercatat US$ 359,6 juta akibat penyesuaian akuntansi non-recurring atas divestasi aset PLTU.
“Hal ini merupakan dampak yang bersifat sementara dan tidak berulang, serta tidak berkaitan langsung dengan kinerja operasional maupun total arus kas usaha perseroan yang tetap menunjukkan tren positif,” tegas Juli.
Juli Oktarina mengungkapkan, pada periode tersebut, TBS mencatatkan total EBITDA disesuaikan sebesar US$ 15,8 juta, dengan segmen pengelolaan limbah menyumbang EBITDA US$ 2,6 juta. Angka ini belum mencerminkan kontribusi penuh dari Sembcorp Environment yang akuisisinya rampung pada akhir Maret 2025.
Karena itu, manajemen menyimpulkan bahwa capaian tersebut mengindikasikan potensi pertumbuhan yang menjanjikan dari lini bisnis hijau TBS.
Baca Juga
Akuisisi Sembcorp, Peringkat TBS Energi (TOBA) Dipertahankan di Level idA
“Angka keuangan kuartal ini perlu dilihat dalam konteks transformasi jangka panjang yang sedang kami jalankan. Secara fundamental, kami terus menghasilkan arus kas yang sehat, dan tetap fokus menciptakan nilai tambah dari lini bisnis berkelanjutan kami,” jelas Juli.
Dia menambahkan, dengan penyelesaian divestasi aset PLTU di Minahasa Utara berkapasitas 100 megawatt (MW), TBS akan mengurangi emisi karbon lebih dari 45, atau sekitar 777 ribu ton CO2e per tahun.
“Langkah ini sejalan dengan roadmap TBS2030 dan komitmen Perseroan untuk tumbuh secara bertanggung jawab di sektor pengelolaan limbah, mobilitas listrik dan energi terbarukan,” papar dia.

