IHSG Menuju Resistance Penting 7.800, Aksi Investor Lokal dan Rotasi Portofolio Diprediksi kembali Jadi Penopang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melanjutkan penguatan secara konsisten pada penutupan perdagangan saham, Selasa (29/7/2025). Level IHSG kini mendekati resistance penting di level 7.800. Kenaikan ini ditopang oleh sejumlah sentimen positif, baik dari global maupun domestik.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, meski telah menguat signifikan dalam beberapa hari, peluang penguatan IHSG masih terbuka, apalagi jika level 7.800 berhasil ditembus secara teknikal dengan dukungan sentimen makro dan pergerakan sektor-sektor tematik yang kuat.
Baca Juga
Investor Asing Berbalik Net Sell Rp 420,74 Miliar Hari Ini, Berikut Daftar Saham yang Diobral
“Namun demikian, investor tetap perlu mewaspadai potensi aksi ambil untung jangka pendek menjelang resistance penting tersebut ditembus,” kata Hendra kepada investortrust.id Selasa, (29/7/2025).
Dari sisi eksternal, Hendra menilai, pergerakan indeks akan dipengaruhi penantian pelaku pasar terhadap hasil rapat Federal Reserve yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan, di tengah melandainya tekanan inflasi di Amerika Serikat (AS). “Di sisi lain, meredanya kekhawatiran atas tensi dagang AS-China serta sinyal positif dari perundingan perdagangan AS-UE juga menambah sentimen optimistis,” ucapnya.
Sementara dari dalam negeri, fundamental ekonomi dinilai tetap solid, meskipun nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp 16.399 per dolar AS. Sentimen positif juga datang dari ekspektasi pertumbuhan kinerja emiten hingga akhir tahun serta besarnya likuiditas domestik yang masuk ke pasar saham.
Baca Juga
Diskon PPN Properti Diperpanjang hingga Akhir 2025, Ini Daftar Saham Diuntungkan
“Menariknya, penguatan IHSG yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir justru terjadi di tengah aksi jual bersih oleh investor asing. Hal ini menunjukkan peran dominan investor domestik yang kini menjadi tulang punggung utama pasar,” bebernya.
Menurut Hendra, kuatnya partisipasi investor lokal, baik institusi maupun ritel, turut mendorong likuiditas dan menjaga stabilitas pasar, terutama di tengah periode net sell asing.
Rotasi Portofolio
Selain itu, investor domestik mulai melakukan rotasi portofolio dari saham-saham perbankan besar dan bluechip yang sedang berkonsolidasi ke sektor-sektor lain yang memiliki prospek cerah, seperti energi, konstruksi, dan tambang logam.
“Salah satu fenomena yang menarik adalah naiknya IHSG tanpa kontribusi besar dari sektor perbankan, yang selama ini menjadi motor utama indeks. Saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI sedang dalam fase konsolidasi pasca penguatan di semester I,” katanya.
Baca Juga
Namun demikian, Hendra memandang saham sektor energi dan tambang justru mencuri perhatian pelaku pasar. Seperti saham ADRO, yang tak hanya bermain di batu bara, tetapi sedang memperluas ekspansi ke energi terbarukan, mulai dilirik kembali dengan target harga Rp 2.100. Selain itu, BRMS menarik dicermati karena penguatan harga emas dunia serta potensi pengembangan tambang yang besar, dengan target jangka pendek Rp 500.
Saham lainnya yang patut diperhatikan menurut Hendra yakni saham WIRG, yang tengah mencoba keluar dari fase konsolidasi dan mulai mencetak volume akumulasi, dengan target di Rp 150. Sementara saham CUAN, menjadi salah satu saham energi panas bumi paling fenomenal tahun ini, juga layak dikoleksi dengan target harga Rp 1.795.

