Penurunan Harga Batu Bara mulai Terbatas, Saatnya Berburu 5 Saham Ini?
JAKARTA, investortrust.id – Tekanan harga batu bara global diprediksi berlanjut sampai akhir tahun 2025, di tengah lemahnya permintaan impor dari negara-negara utama, seperti Tiongkok dan India. Hanya saja penurunan diproyeksikan mulai terbatas atau mendekati titik bottom, meski demikian peluang penguatan belum terbuka untuk jangka menengah.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya untuk mempertahankan rekomendasi Netral untuk sektor batu bara. Pilihan saham unggulan dalam sektor ini meliputi PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (AADI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Baca Juga
Ekspor Batu Bara Indonesia ke China Anjlok, Ini 3 Penyebab Utamanya
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa saat ini harga batu bara dunia telah mendekati level biaya produksi (cost support). Rata-rata harga batu bara acuan Indonesia (Indonesian Coal Index/ICI) berada di bawah ekspektasi analis. ICI3 tercatat rata-rata sebesar US$ 64,8/ton dan ICI4 sebesar US$ 47,6/ton. Angka ini menunjukkan penurunan masing-masing sekitar 15,6% dan 15,5% secara tahunan (year-to-date).
Penurunan ini dipicu oleh lemahnya permintaan dari Tiongkok dan India. Impor batu bara Tiongkok anjlok 7,9% yoy menjadi 189 juta ton sepanjang lima bulan pertama 2025. Begitu juga dengan impor batu bara oleh India turun 7,2% yoy menjadi 38 juta ton pada kuartal I-2025. “Kedua angka tersebut berada di bawah proyeksi analis sebelumnya yang mengharapkan permintaan relatif stabil hingga meningkat,” tulisnya.
Baca Juga
Dolar AS Menguat Jumat Pagi di Tengah Memanasnya Hubungan Trump dan Powell
Di sisi lain, Tiongkok terus meningkatkan produksi domestiknya sebesar +7% yoy, mendorong akumulasi stok di pelabuhan dan lokasi industri. Sementara itu, ekspor Indonesia justru mengalami kontraksi sekitar 8% yoy pada semester I-2025, sebagian akibat cuaca ekstrem yang menghambat aktivitas tambang dan pengapalan.
Di tengah tekanan harga, sejumlah produsen Indonesia mendapat keuntungan dari penurunan beban royalti pasca-implementasi kebijakan baru untuk tambang IUPK. Hal ini menekan biaya produksi tunai (cash cost) untuk produk ICI4 menjadi sekitar US$ 40-45/ton, bahkan beberapa produsen berbiaya rendah dilaporkan hanya mengeluarkan US$ 35/ton.
Pemulihan Tertahan
Meskipun risiko penurunan harga lebih lanjut mulai terbatas karena mendekati level biaya produksi, analis memperkirakan pemulihan harga masih akan tertahan hingga akhir kuartal III-2025, saat periode restocking baru dimulai.
Baca Juga
Target Produksi Pama Meleset, Proyeksi Laba dan Saham United Tractors (UNTR) Dipangkas
Jika harga batu bara tetap bertahan di level rendah seperti sekarang ini, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan terdapat risiko penurunan laba bersih hingga 20-25% untuk tahun fiskal 2025. Sedangkan harga saham sektor batu bara saat ini diperdagangkan pada valuasi rata-rata 5,0x PE.
Meski sudah murah, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, komoditas batu bara masih dibayangi risiko pelemahan laba. Dari sisi saham, UNTR dinilai paling defensive, karena memiliki eksposur bisnis jasa tambang yang lebih stabil serta menawarkan dividen yield menarik hingga 8%.
Gafrik Saham 5 Emiten Batu Bara Ytd

