Target Produksi Pama Meleset, Proyeksi Laba dan Saham United Tractors (UNTR) Dipangkas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT United Tractors Tbk (UNTR) menghadapi tantangan berat untuk merealisasikan target kinerja keuangan tahun ini. Meskipun produksi batu bara pada Mei 2025 dari anak usaha tambangnya, Pamapersada Nusantara (Pama), menunjukkan perbaikan, secara keseluruhan capaian Januari–Mei 2025 masih jauh dari target.
Hal ini mendorong analis BRI Danareksa Sekuritas Kofi Ananta dan Erindra Krisnawan memangkas estimasi laba UNTR hingga tiga tahun ke depan. Begitu juga dengan target harga saham UNTR direvisi turun, namun rekomendasi tetap dipertahankan beli.
Data UNTR menyebutkan bahwa produksi overburden (OB) dan batubara Pama pada Mei 2025 masing-masing mencapai 95 juta bcm dan 12 juta ton atau tumbuh +12% dan +16% secara bulanan. Namun, angka ini turun 11% dan 4% dari periode sama tahun sebelumnya.
Baca Juga
Vale (INCO) Tunjuk Anak Usaha United Tractors (UNTR) sebagai Kontraktor Tambang Blok Pomalaa
Secara total, volume OB selama lima bulan pertama hanya mencapai 433 juta bcm atau 37% dari target tahunan 1.157 juta bcm, yang dinilai sulit dikejar. “Kami turunkan estimasi laba UNTR untuk 2025–2027 masing-masing sebesar 8%, 10%, dan 13% akibat lemahnya produksi Pama dan harga batubara yang di bawah ekspektasi,” tulis analis dalam riset terbaru yang dikutip Rabu (3/7/2025).
Estimasi Pendapatan dan Laba UNTR
Sumber: BRI Danareksa Sekuritas
Terkait rata-rata harga batubara acuan Newcastle pada Januari–Mei 2025 berada di level US$ 104,1 per ton, turun 21% dari tahun lalu dan di bawah proyeksi US$ 115 per ton. Penurunan ini disebabkan oleh kelebihan pasokan global setelah terjadi peningkatan volume produksi dari China, Australia, dan Indonesia. Di lain sisi, permintaan batubara dari China dan India justru turun masing-masing 5% dan 4%.
Dari segmen bisnis penjualan alat berat, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, penjualan alat berat Komatsu menjadi titik cerah. Penjualan naik 34% yoy pada lima bulan pertama, terutama dari sektor kehutanan yang melonjak 64% yoy.
Baca Juga
Private Placement Tuntas, UNTR kini Genggam Segini Saham Acset (ACST)
Lonjakan ini sebagian besar akibat permintaan yang dibawa dari tahun sebelumnya (spillover demand), sehingga diperkirakan melandai pada paruh kedua 2025. Target penjualan Komatsu tetap di kisaran 4.500–4.600 unit hingga akhir tahun dan capaian hingga Mei sudah memenuhi 51% dari target tersebut.
Meskipun menghadapi tekanan dari sisi operasional dan harga komoditas, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham UNTR dengan target harga dipangkas dari semula Rp 24.900 menjadi Rp 23.800.
“Valuasi saham UNTR saat ini mencerminkan outlook yang lemah, dengan PER di level 4,5x atau -0,7 standar deviasi dari rata-rata 5 tahun. Free cash flow yang masih kuat menjadi peluang jangka menengah tetap menarik,” tambah riset tersebut.

