Imbas Ketidakpastian, Prediksi Bitcoin Terbelah antara US$ 94.000 dan US$ 114.000
JAKARTA, investortrust.id - Pasar kripto kembali mengalami tekanan dipicu gejolak geopolitik dan stagnasi pasar keuangan global. Harga Bitcoin yang kini diperdagangkan di kisaran US$ 104.522 memicu perpecahan di kalangan investor dan analis terkait arah pergerakan selanjutnya.
Melansir CoinTelegraph, Jumat (20/6/2025), dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan analis kripto Matthew Hyland di platform X belum laman ini, sebanyak 50,2% dari 1.300 responden memperkirakan harga Bitcoin akan turun ke US$ 94.000.
Sementara itu, 49,8% lainnya optimistis harga Bitcoin akan menembus rekor baru di angka US$ 114.000. Proyeksi tersebut menandai ketidakpastian tinggi di tengah pasar kondisi pasar yang tidak menunjukkan tren naik atau turun yang jelas (sideways).
Baca Juga
Mirae Sekuritas Ungkap Faktor Ini Picu Kejatuhan IHSG dan Nilai Tukar dalam Beberapa Hari Terakhir
Jika Bitcoin turun ke level US$ 94.000 akan menjadi koreksi sekitar 10% dari posisi saat ini. Sebaliknya, reli ke US$ 114.000 akan mencetak kenaikan 9% sekaligus melampaui rekor tertinggi sebelumnya, yaitu US$ 111.940 yang dicapai pada 22 Mei 2025 lalu.
Pasar kripto sempat menunjukkan momentum positif saat Bitcoin mencapai US$ 110.000 pada 11 Juni lalu. Namun, serangan udara Israel terhadap Iran memicu eskalasi geopolitik yang mendorong penurunan tajam harga aset digital.
Situasi diperparah dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyerukan ‘penyerahan tanpa syarat’ Iran dan mengancam pemimpin tertinggi negara Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Ketidakpastian ini tidak hanya dirasakan pasar kripto, tapi juga di pasar saham yang lebih luas. Indeks pasar saham yang mengukur kinerja 500 perusahaan publik besar (Indeks S&P) tercatat turun 0,48% dalam lima hari perdagangan terakhir hingga 18 Juni lalu.
Baca Juga
BTC Rebound, Konflik Israel-Iran Apakah Membuat Bitcoin Berisiko?
Lalu saham milik MicroStrategy Inc (MSTR), perusahaan milik Michael Saylor yang dikenal agresif berinvestasi di Bitcoin, bahkan turun 2,43% selama periode yang sama dan mencatat penurunan 10,74% dalam 30 hari terakhir.
Meski begitu, optimisme terhadap aset kripto masih belum sepenuhnya padam. Dana yang diperdagangkan di bursa (exchange traded fund/ETF) Bitcoin AS tetap menunjukkan arus masuk positif, dengan tambahan dana sebesar US$ 388,3 juta pada Kamis (19/6), menandai delapan hari berturut-turut aliran dana yang masuk.
Pendiri BitMEX Arthur Hayes bahkan memproyeksikan harga Bitcoin bisa mencapai US$ 250.000 di akhir tahun. Sementara itu, analis lain memperkirakan harga Bitcoin akan diperdagangkan dalam kisaraan US$ 130.000 hingga US$ 135.000 pada kuartal ketiga tahun ini.
Namun, tidak semua pihak sepakat. Analis kripto Rekt Capital mengingatkan bahwa pasar bearish masih mungkin terjadi setelah fase bull market saat ini. Pernyataan tersebut kontras dengan pandangan Michael Saylor yang sebelumnya menyatakan bahwa ‘era pasar bearish sudah berakhir’ bagi Bitcoin.
Jika melirik data CoinMarketCap, Jumat (20/6/2025), harga Bitcoin saat ini berada di level US$ 104.589,93 pada pukul 11.14 WIB, atau turun 0,40% dalam 24 jam terakhir.

