Mirae Sekuritas Ungkap Faktor Ini Picu Kejatuhan IHSG dan Nilai Tukar dalam Beberapa Hari Terakhir
JAKARTA, investortrust.id - Pasar keuangan Indonesia dengan dilanda tekanan signifikan dalam sepekan terakhir, seiring sentimen risk off yang melanda pasar global. Indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok hampir 2% menjadi 6.968,6 pada Kamis (19/6) atau menandai penutupan pertama di bawah level psikologis 7.000 sejak pertengahan Mei.
Penurunan tersebut berlanjut pada peradgangan intraday sesi I, Jumat (26/6/2025), dengan pelemahan sebanyak 50,4 poin (0,72%) menjadi 6.918. Rentang pergerakan 6.873-6.970 dengan nilai transaksi Rp 6,51 triliun. Pelemahan dipicu atas kejatuhan mayorita sektor saham, seperti sektor property 1,46%, sektor material dasar 0,89%, dan sektor industry 0,88%.
Baca Juga
IHSG Sesi I Jatuh 50 Poin, Sebaliknya Dua Saham Ini malah ARA
Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai bahwa reli IHSG yang terjadi sejak Mei terbilang terlalu dini dan tidak ditopang oleh fundamental ekonomi yang kokoh. "Pandangan serupa juga kami miliki terhadap Rupiah," ujarnya dalam riset yang dirilis Jumat (20/6/2025).
Secara bersamaan, Rupiah melemah 0,6% ke posisi 16.395 terhadap Dolar AS. Meningkatnya aversi risiko tercermin dari lonjakan Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun ke level 82,07, sementara CDS Filipina dan Thailand juga melonjak ke 64,82 dan 46,6 secara berturut-turut.
Lebih lanjut, Rully memperkirakan, kondisi pasar ke depan masih diliputi ketidakpastian global. Tarif AS yang diperkirakan mulai memperlihatkan dampak signifikan bulan ini akan menambah volatilitas.
Baca Juga
AS Tunda Keputusan Serang Iran dalam 2 Pekan, Eropa Dorong Upaya Diplomasi
Ia juga menyoroti sikap hati-hati The Fed dalam menghadapi inflasi, di mana “dot plot” terbaru dari pertemuan FOMC bulan Juni menunjukkan perpecahan beberapa anggota memperkirakan tidak ada penurunan suku bunga tahun ini, sementara yang lain memperkirakan dua kali penurunan. Sumber utama perbedaan ini adalah risiko inflasi akibat kebijakan perdagangan AS saat ini.
"Di sisi lain, ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel turut menjadi katalis negatif baru. Konflik yang terus bergulir dikhawatirkan mengganggu pasokan minyak global dan mendorong inflasi AS kembali naik," ujar Rully.
Di sisi perdagangan, negosiasi antara Indonesia dan Amerika Serikat masih belum menemukan titik terang dan praktis terhenti hanya beberapa minggu sebelum tenggat waktu penting. "Kami menilai hal ini berpotensi untuk menambah tekanan terhadap Rupiah," terangnya.

